Ads by Smowtion

Showing posts with label Kapal Selam. Show all posts
Showing posts with label Kapal Selam. Show all posts

Wednesday, April 4, 2012

Menhan dan Petinggi TNI-Polri Terima Brevet Hiu Kencana

SELAT SUNDA - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kanan) berbincang dengan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono dan KSAL Laksamana TNI Soeparno (kiri) ketika meninjau ruang kontrol Kapal Selam KRI Nenggala-402, yang berlayar di kedalaman 45 meter di Selat Sunda, Banten, Rabu (4/4).

Kunjungan ini sekaligus penyematan brevet kehormatan Hiu Kencana dari Komandan Satuan Kapal Selam Koarmatim Kolonel Lut (P) Jeffry S Sanggel, SH. kepada Menhan Purnomo Yusgiantoro (kedua kiri), Kapolri Jenderal Timur Pradopo (tengah) dan KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo (kanan).

Nanggala resmi beroperasi setelah diperbaiki secara total di Korea Selatan. Kapal ini kini punya kemampuan membawa beberapa senjata strategis seperti torpedo, ranjau laut, serta rudal laut ke darat. FOTO ANTARA/Asep Fathulrahman/Koz/12, Dispenal






Monday, April 2, 2012

Kapal Selam Nuklir AL India di Serahterimakan

Inilah kapal selam bertenaga nuklir pertama India yang secara resmi akan memperkuat AL India pada 4 April 2012 nanti. Kapal selam yang disewa dari Russia ini diberinama "Nerpa", di adopsi dari basic kapal selam nuklir Russia kelas Akula II (971 Shchuka-B).

Kapal selam ini sebelumnya pernah mengalami kecelakaan kebakaran pada beberapa modul sistem kapal saat diujicoba pengoperasiannya di perairan Jepang yang menyebabkan tewasnya 20 pelaut Russia. ©alutsista

Monday, February 13, 2012

Tabah Sampai Akhir.....


Akreditasi foto-foto : WIDYA/ TNI AL

Berada di kedalaman laut,dikurung dalam kapal selam yang sempit selama puluhan hari bukanlah perkara mudah. Rasa jenuh, stres, hingga gangguan kejiwaan,menjadi ancaman nyata. Belum lagi keganasan laut yang bisa menenggelamkan mereka sewaktu-waktu.

Kini keceriaan terus tergambar dari raut para awak KRI Nanggala 402 kala mendarat di dermaga Armatim beberapa awal Minggu lalu. Perasaan puas sekaligus bahagia tersungging dari senyum mereka. Ini karena mereka sukses mengemban misi membawa pulang KRI Nanggala 402 dari proses overhaul di Korea Selatan.

Tetapi bukan itu saja, bisa menghirup udara alam bebas adalah sesuatu yang luar biasa bagi mereka. Bayangkan, 21 hari lamanya mereka berada dalam kapal yang sempit. Menyelami lautan bebas hingga ratusan mil, belum lagi berkutat dengan rutinitas dan teman yang sama selama itu. Tentu ini menjadi hal yang membosankan bagi manusia normal. Namun, jiwa mereka telah terpatri dengan semboyan ‘Tabah Sampai Akhir’, seperti yang diajarkan para pelaut terdahulu.

Sehingga seberat apapun resiko yang dihadapi, pantang bagi mereka untuk mundur apalagi menyerah saat berjuang. Para awak kapal selam bukanlah prajurit biasa. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang mampu bertahan dalam situasi dan kondusi sesulit apapun. Tetapi itulah faktanya, nasib para awak kapal selam bisa dibilang tidak seenak awak kapal atas laut biasa.

Berebut Merokok

Selain ruang yang terbatas, segala aktifitas awak Nanggala pun terbatas. Jangankan bergerak ke sana-kemari, merokok pun tidak bisa mereka lakukan setiap waktu. Ini karena mereka berada berada di dalam kapal yang tertutup, bersama mesin kapal yang sensitif dengan asap maupun api. Padahal, di kedalaman laut yang dingin rokok bisa menjadi penawarnya. Tetapi, para awak KRI Nanggala 402 memiliki cara khusus untuk mengobati keinginan merokok itu.

Saat kondisi air laut tenang misalnya, kapal dijalankan dengan setengah terapung. Tujuannya, bagian tengah kapal yang tinggi bisa berada di permukaan air laut, sehingga mereka bisa naik dan menghisap rokok. ”Kalau kapal sudah mengapung seperti ini, kita biasanya berebut naik untuk merokok. Tetapi karena waktunya terbatas, kita tidak bisa berlama-lama, sebab harus bergantian dengan awak yang lain.



Paling hanya dua batang setelah itu turun lagi,” tutur salah seorang awak KRI Nanggala Lettu Laut (P) Hadhito. Namun aktifitas merokok lanjut Hadhito akan berhenti total kalau kondisi gelombang air laut sedang tinggi. Sebab pada situasi itu kapal sulit mengapung, karena harus menjaga keseimbangan akibat hantaman gelombang. ”Kalau sudah seperti ini, kami biasanya hanya berdiri di dalam kapal sambil berpegangan agar tidak jatuh. Apalagi kalau pas ada badai atau berlayar di laut yang dalam,” katanya.

Minum Air Laut Dalam

Meski sudah terlatih, perasaan was-was kadang masih tetap muncul saat kapal berada di bawah laut. Kondisi ini biasanya muncul saat kapal menyelam ke laut yang dalam. Ini karena arus bawah laut cukup kencang, sehingga resiko bahaya juga cukup besar,seperti di laut China Selatan atau Laut Banda Maluku. ”Dua lokasi ini terbilang paling angker, sebab ombaknya tidak bisa diprediksi,” kata perwira yang juga putra Kasal Laksamana Soeparno ini.



Tetapi lanjut Hadhito, para awak kapal selam sudah punya penangkal untuk menghadapi kedalaman laut tersebut. Penangkal itu tak lain berupa tradisi meminum air laut kedalaman. Setiap mengarungi kedalaman baru misalnya, maka tradisi meminum segelas air laut wajib dilakukan. ”Kapal selam ini biasanya berlayar di kedalaman 30 meter. Nah bagi mereka yang belum pernah belayar di kedalaman itu, maka wajib minum air laut. Ritual serupa juga akan kami lakukan jika kapal turun lagi di kedalaman bawah 30 meter.

Saat kapal di kedalaman 50 meter misalnya, maka harus minum air laut lagi,begitu seterusnya, sampai kapal ini berlayar di batas kedalaman maksimum 200 meter,”imbuh Serma PTB M Nuril Huda. Tradisi minum air laut kedalaman kata Nuril tidak hanya berlaku bagi anggota saja, tetapi juga komandan, perwira pelaksana maupun juga kepala kamar mesin. ”Kalau sudah seperti ini kami tidak membedakan pangkat dan jabatan.

Siapa yang belum pernah masuk di kedalaman itu ya wajib minum air laut. Sebab ada sugesti dari kami,bahwa kalau sudah meminum air itu, maka kita akan menyatu dengan laut,”kata prajurit asal Lamongan ini. Pada ritual inilah, kadang banyak awak kapal yang tidak kuat karena rasa air yang begitu asin. Bahkan mereka yang tidak kuat bisa langsung diare. ”Walau begitu, tradisi ini tetap wajib diikuti,”tandasnya.

Oleh : IHYA’ ULUMUDDIN/Surabaya/Seputar Indonesia

Friday, February 10, 2012

Danlantamal Tinjau Pembangunan Pangkalan Kapal Selam di Teluk Palu


Kapal Selam TNI AL KRI Nanggala-402. (Foto: Audreyy)

PALU - Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) IV Makassar Brigjen Mar M Suwandi Thahir meninjau pangkalan khusus kapal selam dan kapal perang yang sedang dibangun di Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (9/2).

Ia mengemukakan bahwa keberadaan pangkalan ini sangat strategis untuk pengamanan wilayah NKRI terutama di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II Selat Makassar sampai ke perbatasan dengan negara tetangga Malaysia di Laut Sulawesi.

Namun demikian, Suwandi belum bisa memastikan kapan pembangunan pangkalan ini bisa diselesaikan karena anggarannya tergantung pada alokasi dari Mabes TNI AL.

Sementara itu, Danlanal Palu Kol Laut (P) Budi Utomo mengemukakan, pembangunan pangkalan ini akan berjalan secara bertahap (multi years) yang dimulai tahun 2011 di dermaga Pangkalan TNI AL (Lanal) Kelurahan Loli, Kota Palu.

Menurut dia, pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemkot Palu telah membantu TNI AL berupa lahan seluas tiga hektare untuk mengembangkan Dermaga Lanal di Loli tersebut termasuk lokasi pembangunan markas Lanal Palu yang baru.

TNI AL akan membangun berbagai sarana dan fasilitas untuk kepentingan kapal-kapal selam dan KRI dalam hal logistik, perbaikan dan tempat istirahat.

"Pangkalan itu sekarang sudah bisa digunakan hanya belum maksimal. Sudah pernah diuji coba dengan kapal selam dan sudah rutin digunakan oleh KRI-KRI yang beroperasi di alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) II Selat Makassar," ujar Budi.

Dermaga Lanal Palu di Loli ini merupakan pangkalan kapal selam satu-satunya di luar Jawa.

Lokasi Strategis

Teluk Palu ini dipilih karena lokasinya yang sangat strategis dan konfigurasi alur lautnya dan tidak terdapat di teluk lain di Indonesia.

"Alur laut Teluk Palu mulai dari Selat Makassar sampai Loli mencapai sekitar 30 kilometer dengan lebar 10 km dan kedalaman 400 meter. Ini sangat istimewa, sehingga kapal raksasa sekelas kapal induk Amerika Serikat pun bisa masuk di sini," ujarnya kepada ANTARA beberapa waktu lalu.

Lokasinya juga strategis karena jarak ke perbatasan Malaysia mencapai 300 mil dan ke Makassar juga 300 mil, jadi berada di tengah-tengah dua titik penting dalam strategi pertahanan nasional.

"Kondisi perairan Teluk Palu ini pun tidak akan terpengaruh oleh kondisi cuaca dan iklim bagaimanapun yang terjadi di ALKI II. Jadi teluk ini sangat cocok untuk dijadikan tempat parade kapal perang seperti yang pernah dilaksanakan di Manado," ujarnya.

Sumber : ANTARANEWS.COM

Monday, February 6, 2012

Nanggala Mengaplikasi Teknologi Sistem Pertempuran Norwegia


Combat management system KRI Nanggala-402 (Foto: ANTARANews/Ade P Marboen)

SURABAYA - Setelah 24 bulan diperbaiki menyeluruh (overhaul and retrofit) di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan, KRI Nanggala-402 kembali memperkuat armada TNI-AL, Senin (6/2).

Bedanya kali ini, sistem manajemen tempur (Combat Management System/ CMS) dan operasi kapal selam kelas U-209/1300 itu diperbarui memakai sistem dari Norwegia.

Sistem baru KRI Nanggala-402 diterapkan dari teknologi manajemen tempur dan operasi dari Norwegia. Teknologi digital itu memungkinkan komandan kapal mengambil keputusan secara lebih cepat, efisien, dan tepat atas posisi dan kedudukan kapal terhadap sasaran yang dituju.

Sebelum memakai teknologi dari Norwegia itu, KRI Nanggala-402 sebagaimana "kembarannya" KRI Cakra-401 memakai teknologi Sinbad dari Belanda yang bekerja secara manual.

Kebolehan sistem baru itu juga diujicobakan selama pelalayaran pulang dari Korea Selatan menuju perairan Indonesia sejak 21 Januari lalu dan tiba di perairan Selat Madura pada Senin pagi.

Contoh kebolehan itu --dalam operasi tempur sebenarnya-- kapal bisa meluncurkan empat torpedo secara salvo pada selang waktu sangat rapat. Kapal selam sepanjang 59 meter itu sendiri memiliki delapan tabung peluncur torpedo pada ujung haluan utamanya.

Sambutan kehadiran Nanggala diberikan KSAL, Laksamana TNI Soeparno, Panglima Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL, Laksamana Muda TNI Ade Sopandi, dan Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, serta perwakilan dari Daewoo.

Menyinggung kehadiran kembali kapal dari Satuan Kapal Selam TNI-AL itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Marsekal Madya TNI Eris Haryanto, menyatakan, "Kita puas dengan kinerja Daewoo ini. Mereka pendatang baru di dunia perkapalselaman dunia namun bisa membuktikan janji dan komitmennya."

Nanggala Mampu Di Dalam Air Selama 52 Hari

SURABAYA - Setelah diperbaiki total di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korsel selama 2 tahun, KRI Nanggala kini sudah menjelma menjadi sebuah Kapal Selam Modern.

Kapal bernomor lambung 402 ini dilengkap dengan Torpedo yang mampu mengejar kebisingan. Kapal ini juga bisa dilengkap oleh beberapa misil seperti Exocet, Harpoon dsb. Tak hanya itu dengan kekuatan sonar baru yang bisa kapal ini mampu mendeteksi kapal perang musuh hingga 40 kilometer dengan catatan laut dalam kondisi clear atau jernih. KRI Nanggala diawaki oleh 48 awak, dalam kondisi 100 persen Nanggala bisa berada didalam air hingga 52 hari.

Kolonel (P) Tunggul Suropati, mantan Komandan Satgas Overhoul KRI Nanggala mengungkapkan kapal ini memliki kemampuan menyelam yang cukup baik. " Dalam uji coba kami bisa turun hingga 257 meter didalam laut, dalam keadaan terpaksa maksimal 300 meter " ujarnya.

Kapal selam ini sendiri mampu melaksakan tugas penyusupan, peperangan atas air dan bawah air, penyebaran ranjau terbatas. dan emergensi VIP.
KSAL dan sejumlah pejabat yang menyambut kehadiran kapal selam RI ini menyempatkan diri meninjau bagian dalam kapal.


Kepala Staf TNI-AL, Laksamana TNI Soeparno (tengah), bersama Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq (kanan), sesaat setelah menerima kedatangan kembali KRI Nanggala-402 di Dermaga Madura, Surabaya, Senin. Kapal selam yang diperbaiki di Korea Selatan ini memperkuat arsenal bawah air Indonesia bersama KRI Cakra-401. (ANTARANews/Ade P Marboen)

Kembalinya kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu, memantapkan kekuatan TNI AL dan bergabung dengan satu kapal selam lainnya KRI Cakra-401. Seperti halnya KRI Nanggala, kapal selam KRI Cakra juga sudah lebih dulu menjalani "overhoul" di galangan yang sama di Korsel pada 2004-2006.

Perbaikan total yang dijalani KRI Nanggala meliputi, struktur kapal, lapisan baja, sistem navigasi, dan persenjataan bawah air serta sonar berteknologi terkini.

Kapal selam tersebut berbobot mati 1.395 ton, berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter dengan mesin diesel elektrik yang mampu melaju hingga kecepatan 25 knot di dalam air.

Sumber : LIPUTAN6.COM

Sunday, February 5, 2012

KRI Nanggala Hari ini Resmi Disambut Kedatangannya



JAKARTA - Kapal selam TNI AL, KRI Nanggala-402 Minggu (5/2) tiba di perairan Indonesia usai menjalani perbaikan menyeluruh di Korea Selatan selama hampir dua tahun.

Juru bicara TNI AL Laksma Untung Suropati kepada ANTARA di Jakarta, mengungkapkan KRI Nanggala sudah berada di Laut Jawa dua hari sebelum tiba di Dermaga Ujung Surabaya, Komando Armada RI Kawasan Timur, Senin (6/2).

"KRI Nanggala secara resmi akan disambut kedatangannya oleh KSAL Laksamana TNI Soeparno dan Ketua Komisi I DPR," katanya menambahkan.

Seperti KRI Cakra-401, KRI Nanggala juga menjalani perbaikan total di galangan kapal yang sama di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan.

Kembalinya kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu, memantapkan kekuatan pemukul TNI Angkatan Laut bersama KRI Cakra-401 sebagai arsenal bawah laut Tanah Air.

Selama perbaikan total di Korea Selatan itu, KRI Nanggala-402 bermesin diesel-listrik buatan galangan kapal di Kiel, Jerman, itu diperkuat struktur kapal, lapisan bajanya, sistem navigasi, dan persenjataan bawah air serta sonarnya.

Sumber : ANTARANEWS.COM

Friday, February 3, 2012

KRI Nanggala-402 Dijadwalkan Tiba 6 Februari



JAKARTA - Kapal selam TNI-AL, KRI Nanggala-402 kini tengah dalam pelayaran kembali ke Tanah Air usai menjalani reparasi total di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan. Dijadwlkan kapal akan tiba di pangkalannya di Koarmatim TNI-AL, Surabaya, pada 6 Februari nanti.

KSAL, Laksamana TNI Soeparno, dan sejumlah besar pimpinan TNI-AL beserta pimpinan DPR akan menyambut kehadiran kembali kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu. Kehadirannya menambah kelengkapan kekuatan kapal selam Indonesia, karena sebelumnya kapal selam KRI Cakra-401 telah lebih dahulu diretrofit di galangan yang sama.

Selama perbaikan, kapal telah diperkuat strukturnya, termasuk "kulit" bajanya, sistem navigasi dan persenjataan serta sistem sonarnya. Sistem sonar ini sangat vital, karena berfungsi sebagai mata, telinga dan indra pendeteksi kapal musuh.

KRI Nanggala-402 dikomandani langsung keberangkatannya dari Korea oleh Letnan Kolonel Pelaut Purwanto, dengan melayari perairan Selatan Korea Selatan hingga memasuki perairan Nusantara. Nanggala berada di Korea sejak Desember 2009 dan usai menjalani sea trial pasca perbaikan pada Desember 2011 lalu.

DSME sebelumnya juga sukses meretrofit kembali KRI Cakra-401 pada Mei 2004 hingga 13 Februari 2006. Selama proses perbaikan, tenaga ahli Indonesia juga diberdayakan untuk mengetahui dan menguasai teknologi perbaikan kapal selam dari Korea Selatan.

KRI Nanggala-402 dan KRI Cakra-401, dibuat di galangan kapal Howaldtswerke, Kiel, Jerman pada 1981 dari tipe U-209/1300. Kapal ini memiliki bobot mati 1.395 ton, berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter. Dengan mesin diesel elektrik mampu melaju dengan kecepatan kurang lebih 25 knot di dalam air, menyelam di kedalaman sekitar 200 meter dari permukaan lut, dan diawaki 35 anak buah kapal termasuk komandannya.

Di kawasan, selain Indonesia, Singapura juga memiliki empat kapal selam bekas Kerajaan Swedia dari kelas Sjoormen (kelas Challenger); diikuti Malaysia yang membeli juga kapal selam baru kelas Scorpene dari Perancis.

Sumber : ANTARANEWS.COM

Monday, January 23, 2012

DSME Serahterimakan KRI Nenggala-402

KOREA - Jumat (20/1) lalu, Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering Co Ltd (DSME) resmi menyerahterimakan KRI Nanggala-402 yang telah selesai menjalani perbaikan dan perawatan total di Korea Selatan. Rencana perbaikan yang dilakukan selama 24 bulan tepat sesuai jadwal. Sebelumnya Nanggala diberangkatkan dari Surabaya pada Desember 2009.



Wednesday, January 18, 2012

Kapal Selam Pertama TNI AL Rampung 2015


Kapal selam SSK-1 kelas 209 buatan DSME (Foto : Alutsista.blogspot.com)

JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno mengatakan, kapal selam pertama dari tiga unit yang dipesan dari Korea Selatan, bakal rampung pada 2015.

"Untuk yang pertama diperkirakan selesai pada 2015," katanya, di sela Rapat Pimpinan TNI 2012 di Mabes TNI, Jakarta, Rabu (18/1).

Ia menegaskan kontrak pengadaan tiga kapal selam baru untuk TNI AL telah ditandatangani antara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME).

Kontrak tersebut ditandatangani pihak Kemhan RI diwakili oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo, sedangkan pihak DSME diwakili oleh President & CEO DSME Sang-Tae Nam pada Desember 2011.

Kasal menambahkan, untuk kapal selam pertama itu sepenuhnya dibuat di Korea Selatan dan unit kedua dikerjakan bersama antara Indonesia dan Korea Selatan. Untuk unit ketiga sepenuhnya dikerjakan di Indonesia yakni PT AL dengan supervisi tenaga ahli Korea.

Senada dengan KSAL, sebelumnya Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan dalam kontrak itu ada ketentuan mengenai mekanisme alih teknologi mulai dari awal hingga akhir pengadaan selesai seluruhnya.

"Artinya dari awal pembelian proses alih teknologi itu sudah berjalan, yakni dengan mengirimkan sejumlah teknisi yang masa kerjanya masih panjang untuk melihat langsung proses pembuatan kapal selam itu," ujar Wamenhan.

"Pengadaan sumber daya manusia yang akan dikirim ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, khususnya PT PAL. Dan jumlah tenaga ahli Indonesia relatif besar minimal 50 orang," ujar Sjafrie.

Pada pengadaan tahap kedua, para teknisi yang telah dikirimkan tersebut diharapkan mulai terlibat dalam hal-hal teknis menyangkut pembuatan kapal selam.

"Nah disini mulai ada interaksi fisik langsung para teknisi kita dalam proses pembuatan kapal selam. Jadi, peran negara produsen sudah sekitar 50 persen diambil oleh para teknisi kita," tutur dia.

Sjafrie menambahkan selama proses pembuatan dua kapal selam itu selain menyiapkan dan mengirimkan para teknisi juga sudah dibangun pula galangannya. "Sehingga semua ini berjalan paralel," katanya.

Selanjutnya, ujar Sjafrie, pada pembuatan kapal selam ketiga sudah dapat dilakukan di Indonesia dan seluruhnya dilakukan oleh tenaga-tenaga Indonesia.

"Itu kebijakan dasar, strategi besar dalam mekanisme pengadaan alat utama sistem senjata yang ditetapkan Indonesia baik untuk pengadaan alat utama sistem senjata berteknologi tinggi seperti kapal selam, maupun berteknologi sedang," kata Wamenhan.

Sumber : ANTARA

Saturday, January 7, 2012

TNI AL Bangun Pangkalan Kapal Selam di Teluk Palu



DONGGALA - TNI AL membangun sebuah pangkalan khusus untuk kapal selam dan kapal-kapal perang, di Teluk Palu, Sulawesi Tengah.

"Pembangunannya sudah dimulai tahun 2011 di dermaga Pangkalan TNI AL (Lanal) Kelurahan Loli, Kota Palu," kata Komandan Lanal Palu Kolonel Laut (P) Budi Utomo, di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala, sekitar 35 km utara Kota Palu, Kamis (5/1).

Menurutnya, pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemkot Palu telah membantu TNI AL berupa lahan seluas tiga hektar untuk mengembangkan Dermaga Lanal di Loli tersebut menjadi pangkalan kapal-kapal selam dan KRI.

Di atas lahan tersebut, TNI AL akan membangun berbagai sarana dan fasilitas untuk kepentingan pelayanan terhadap alutsista TNI AL itu agar bisa berfungsi maksimal sebagai tempat istirahat, perbaikan dan pengisian logistik kapal-kapal selam dan kapal perang.

Fasilitas yang sedang dan akan dibangun adalah asrama untuk awak kapal dan juga sarana dan fasilitas untuk perbaikan kapal.

"Pangkalan itu saat ini sudah bisa digunakan namun belum maksimal. Sebelumnya sudah pernah diuji coba dengan sandar kapal selam dan sudah rutin digunakan oleh KRI yang beroperasi di alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) III Laut Banda," ujar Budi.

Lokasi Strategis

Menurut Budi, Dermaga Lanal Palu di Loli ini merupakan pangkalan kapal selam satu-satunya di luar Jawa. Teluk Palu ini dipilih karena lokasinya yang sangat strategis dan konfigurasi alur lautnya yang istimewa dan tidak terdapat di teluk lain di Indonesia bahkan mungkin di dunia.

"Alur laut teluk Palu mulai dari Laut Banda sampai Loli mencapai panjang 30 kilometer dengan lebar 10 km dan kedalaman 400 meter. Ini sangat istimewa, sehingga raksasa sekelas kapal induk Amerika Serikat pun bisa masuk di sini," ujarnya.

Lokasinya juga strategis karena jarak ke Malaysia 300 kilometer dan ke Makassar juga 300 kilometer, jadi berada di tengah-tengah dua titik penting dalam strategi pertahanan nasional.

"Kondisi perairan Teluk Palu ini pun tidak akan terpengaruh oleh kondisi cuaca dan iklim bagaimanapun yang terjadi di ALKI III. Jadi teluk ini sangat cocok untuk dijadikan tempat parade kapal perang seperti yang pernah dilaksanakan di Manado," ujarnya.

Ketika ditanya berapa dana yang dikucurkan dan kapan pembangunan pangkalan kapal selam ini selesai dan beroperasi penuh, Budi Utomo mengaku tidak tahu karena hal itu tergantung pada pendanaan dari Mabes TNI AL.

"Dana pembangunannya dikucurkan bertahap dari Mabes. Proyeknya ada di Mabes, kami hanya menerima saja," ujar Budi.

Ia juga tidak menyebutkan berapa kapal selam yang akan berpangkalan di Dermaga Loli ini, namun menyebut bahwa dalam waktu dekat ini, TNI AL akan membeli tiga kapal selam baru dan tidak tertutup kemungkinan kapal-kapal itu akan ditempatkan di pangkalan Loli ini.

Sumber : GATRA

Sunday, December 25, 2011

Kebutuhan Kapal Selam TNI AL 8 Unit Hingga 2024



JAKARTA - Kebutuhan Kapal Selam TNI AL dalam blue print pertahanan hingga tahun 2024 adalah delapan unit kapal selam. Jumlah ini sebenarnya masih jauh dari cukup untuk mengamankan laut Indonesia yang sangat luas.

“Sampai 2024 kami akan mengadakan delapan unit kapal selam,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama Untung Suropati di Jakarta, Jumat (23/12).

Tiga kapal selam yang kontraknya ditandatangani antara Kemhan dan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME) berada pada rencana strategis (renstra) pertama 2010-2014. Ketiga kapal selam tersebut diharapkan selesai dan berada di Indonesia berturut-turut pada 2015, 2016, dan 2018.

Untuk menambahkan, standar minimal kapal selam yang harus dimiliki Indonesia adalah 14 unit. “Standar minimal dalam konteks keamanan negara kepulauan adalah 14-18 unit,” ujar Untung.

Namun begitu Wakil Kepala Staf TNI AL Laksamana Madya TNI Marsetio sebelumnya mengatakan Indonesia perlu menambah 39 kapal selam untuk menjaga wilayah lautnya.

Kadispenal menjelaskan, untuk melakukan pengamanan terhadap Indonesia yang memiliki laut sangat luas memang dibutuhkan kapal selam sejumlah tersebut. Dia mencontohkan, Jepang dengan luas laut yang kecil memiliki 24 unit kapal selam. “Dengan pertimbangan luas wilayah, Indonesia memang harus ada menambah 39 kapal selam,” tambahnya.

Tim Kapal Selam Berangkat Januari 2012

Tim Indonesia yang akan mengikuti proses pembangunan kapal selam di Korea Selatan direncanakan berangkat Januari 2012 mendatang. Tim yang berjumlah 50 orang itu akan mempelajari pembangunan kapal selam agar bisa mengaplikasikannya di Indonesia.

“Diperkirakan tim yang terdiri dari 50 orang itu akan berangkat Januari,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskomblik) Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin di Jakarta, Jumat (23/12).

Pemberangkatan tim tersebut dalam rangka mengikuti proses alih teknologi sesuai kesepakatan kontrak pengadaan kapal selam yang telah ditandatangani, ujarnya. Tim tersebut akan mengikuti keseluruhan proses pembangunan hingga kapal siap dikirim ke Indonesia.

Sebelumnya, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan pada tahap pengadaan kapal selam yang pertama, SDM Indonesia melalui PT PAL akan dikirimkan ke Korea untuk melihat langsung pembuatan kapal selam tersebut. Sebanyak 50 orang teknisi dengan masa kerja yang masih panjang akan mengikuti proses ini.

Pada pengadaan yang kedua, para teknisi ini direncanakan mulai terlibat dalam pembuatan kapal selam. Sehingga pada tahap ketiga para teknisi Indonesia sudah mampu memproduksi sendiri kapal selam.

Menurut Sjafrie, kebijakan dasar pengadaan alutsista harus memberi keuntungan dalam meningkatkan kemampuan industri pertahanan nasional salahsatunya dengan cara alih teknologi. Hartind menambahkan, pembelian kapal selam tersebut sudah sesuai dengan rencana strategis (renstra) dan blue print pertahanan untuk meningkatkan minimal essential forces.

Sumber : JURNAS

Thursday, December 22, 2011

TNI AL Persiapkan Calon Awak Kapal Selam Baru

JAKARTA - Markas Besar TNI AL tengah mempersiapkan sejumlah personel untuk mengawaki tiga kapal selam baru yang baru saja ditandatangani kontraknya.

"Kemungkinan kebutuhannya sekitar 150 personel yang akan kami persiapkan dan kirim untuk belajar mengawakinya di Korea Selatan secara bertahap," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Untung Suropati di Jakarta, Rabu (21/12).

Ia menambahkan secara umum kemampuan personel kapal selam TNI AL tidak perlu diragukan. "Secara umum, personel kami sudah menguasai seluk beluk kapal selam yang diawakinya dan tidak ada keraguan untuk itu," kata Untung.

Kontrak pengadaan tiga kapal selam baru untuk TNI AL telah ditandatangani antara Kementerian Pertahanan Republik dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME).

Kontrak tersebut ditandatangani pihak Kemhan RI diwakili oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo, sedangkan pihak DSME diwakili oleh President & CEO DSME Sang-Tae Nam, Selasa (20/12) malam.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan dalam kontrak itu ada ketentuan mengenai mekanisme alih teknologi mulai dari awal hingga akhir pengadaan selesai seluruhnya.

"Artinya dari awal pembelian proses alih teknologi itu sudah berjalan, yakni dengan mengirimkan sejumlah teknisi yang masa kerjanya masih panjang untuk melihat langsung proses pembuatan kapal selam itu," ujar Wamenhan.

"Pengadaan sumber daya manusia yang akan dikirim ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, khususnya PT PAL. Dan jumlahnya relatif besar minimal 50 orang," ujar Sjafrie.

Pada pengadaan tahap kedua, para teknisi yang telah dikirimkan tersebut diharapkan mulai terlibat dalam hal-hal teknis menyangkut pembuatan kapal selam.

"Nah disini mulai ada interaksi fisik langsung para teknisi kita dalam proses pembuatan kapal selam. Jadi, peran negara produsen sudah sekitar 50 persen diambil oleh para teknisi kita," tutur dia.

Sjafrie menambahkan selama proses pembuatan dua kapal selam itu selain menyiapkan dan mengirimkan para teknisi juga sudah dibangun pula galangannya. "Sehingga semua ini berjalan paralel," katanya.

Selanjutnya, ujar Sjafrie, pada pembuatan kapal selam ketiga sudah dapat dilakukan di Indonesia dan seluruhnya dilakukan oleh tenaga-tenaga Indonesia.

"Itu kebijakan dasar, strategi besar dalam mekanisme pengadaan alat utama sistem senjata yang ditetapkan Indonesia baik untuk pengadaan alat utama sisitem senjata berteknologi tinggi seperti kapal selam, maupun berteknologi sedang," kata Wamenhan.

Sumber : ANTARA.CO.ID

Tuesday, December 20, 2011

Kontrak Penandatanganan Pengadaan Kapal Selam

JAKARTA - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah menandatangani kontrak pengadaan tiga unit kapal selam dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME). Kontrak tersebut ditandatangani kedua belah pihak yang dalam hal ini pihak Kemhan RI diwakili oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo, sedangkan pihak DSME diwakili oleh President & CEO DSME Sang-Tae Nam, Selasa Malam (20/12) di kantor Kemhan RI, Jakarta. Foto : DMC



Mekanisme Alih Teknologi Kapal Selam Korea Masih Dibahas

BANDUNG - Indonesia dan Korea Selatan masih membahas mekanisme alih teknologi dalam pengadaan tiga kapal selam baru untuk TNI Angkatan Laut.

"Proses pengadaan kapal selam kini telah selesai pada tahap penentuan produsen dan kontrak," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam kunjungan kerja ke PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia, di Bandung, Selasa.

Wakil Menhan Sjafrie menambahkan dalam kontrak itu ada ketentuan mengenai mekanisme alih teknologi mulai dari awal hingga akhir pengadaan selesai seluruhnya.

"Artinya dari awal pembelian proses alih teknologi itu sudah berjalan, yakni dengan mengirimkan sejumlah teknisi yang masa kerjanya masih panjang untuk melihat langsung proses pembuatan kapal selam itu," ujar Wamenhan.

"Pengadaan sumber daya manusia yang akan dikirim ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, khususnya PT PAL. Dan jumlahnya relatif besar minimal 50 orang," ujar Sjafrie.

Pada pengadaan tahap kedua, para teknisi yang telah dikirimkan tersebut diharapkan mulai terlibat dalam hal-hal teknis menyangkut pembuatan kapal selam.

"Nah, disini mulai ada interaksi fisik langsung para teknisi kita dalam proses pembuatan kapal selam. Jadi, peran negara produsen sudah sekitar 50 persen diambil oleh para teknisi kita," tutur dia.

Sjafrie menambahkan selama proses pembuatan dua kapal selam itu selain menyiapkan dan mengirimkan para teknisi juga sudah dibangun pula galangannya.

"Sehingga semua ini berjalan paralel," katanya.

Selanjutnya, ujar Sjafrie, pada pembuatan kapal selam ketiga sudah dapat dilakukan di Indonesia dan seluruhnya dilakukan oleh tenaga-tenaga Indonesia.

"Itu kebijakan dasar, strategi besar dalam mekanisme pengadaan alat utama sistem senjata yang ditetapkan Indonesia baik untuk pengadaan alat utama sistem senjata berteknologi tinggi seperti kapal selam, maupun berteknologi sedang," kata Wamenhan.

Sumber : ANTARA.CO.ID

Friday, December 16, 2011

KSAL: Kontrak Tiga Kapal Selam Sudah Selesai

JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno mengatakan Indonesia segera memiliki tiga kapal selam baru untuk melengkapi armada tempurnya.

"Rancangan kontrak tiga kapal selam itu sudah selesai, dan kemungkinan ditandatangani pertengahan bulan," katanya, usai menghadiri Rapat Paripurna TNI Manunggal Masuk Desa 2011 yang dipimpin Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono di Jakarta, Jumat (16/12).

Ia menambahkan dengan kehadiran tiga kapal selam baru itu, daya tempur dan daya tangkal TNI Angkatan Laut semakin kuat.

"Kita mengharapkan kita dapat memiliki enam kapal selam. Itu idealnya, jadi dengan enam kapal selam itu dapat diatur berapa yang berlayar, berapa yang siaga dan berapa yang menjalani pemeliharaan," katanya.

Soeparno mengemukakan kebutuhan kapal selam untuk memperkuat daya tempur di laut sangat diperlukan karena kapal selam merupakan alat utama sistem senjata strategis.

"Bayangkan, dalam sebuah perencanaan operasi kapal selam dapat diturunkan lebih dulu untuk keperluan mendeteksi peta kekuatan lawan, tanpa harus dikawal, karena dia sudah melengkapi diri persenjataan yang lengkap. Ibaratnya, satu kapal selam hanya dapat dilawan dengan tiga kapal fregat," ungkapnya. Tiga kapal selam tersebut diadakan dari Korea Selatan, dari kelas U-209 (Changbogo).

Setelah melalui tender dan disesuaikan dengan spesifikasi teknis dan kebutuhan operasional serta anggaran yang ada, akhirnya diputuskan pengadaan dilakukan dari Korea Selatan.

Juru bicara TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati menambahkan dalam pengadaan kapal selam tersebut dipersyaratkan adanya alih teknologi, sehingga pada tahap selanjutnya secara bertahap Indonesia mampu untuk membuat kapal selam sendiri.

"Dari proses tiga pengadaan kapal selam tersebut, satu unit pertama seluruhnya dikerjakan oleh perusahaan galangan kapal Korea Selatan, pada pembuatan kedua mulai dikerjakan perusahaan galangan kapal kedua negara dengan adanya alih teknologi, dan pada pembuatan ketiga diharapkan sudah dapat dibuat oleh perusahaan galangan kapal Indonesia," katanya.

Sumber : ANTARA

Monday, October 10, 2011

Daewoo Shipbuilding Sepakati Penjualan 3 Kapal Selam

SEOUL - Daewoo Shipbuilding & Engineering menyatakan telah menyepakati perjanjian dengan pemerintah Indonesia mengenai penjualan tiga kapal selam. Nilai perjanjian ini mencapai US$ 1,1 miliar.

Tiga kapal selam mulai dibuat pada November 2011. Pembuat kapal asal Korea Selatan itu menyatakan penjualan ke Indonesia tersebut menandai ekspor kapal selam untuk yang pertama kalinya.

"Kami telah melakukan pembicaraan dan menandatangani kontrak pengiriman kapal selam dengan Kementerian Pertahanan Indonesia," jelas manajemen Daewoo.

Sumber : KONTAN.CO.ID

Friday, September 30, 2011

Tiga Kapal Selam TNI AL Dipesan Dari Korea Selatan

JAKARTA - Pengadaan tiga kapal selam untuk TNI AL akan disediakan dari Korea Selatan. Pengadaan kapal selam yang sempat tertunda 2-3 tahun ini akan dipercepat untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI AL dalam rangka pengamanan wilayah laut Indonesia. "Pengadaannya kami datangkan dari Korea Selatan," kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno usai menghadiri Gelar Hiburan Prajurit dalam rangka HUT TNI yang jatuh pada 5 Oktober di Mabes AL Jakarta, Jumat (30/9).

KSAL menjelaskan, Korea dipilih untuk pengadaan kapal selam ini karena memiliki kemampuan sama dengan Eropa dalam menyediakan kebutuhan kapal selam yang diperlukan TNI AL. "Tapi harganya lebih murah," kata KSAL.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) melalui Sekretaris Jenderal Kemhan Marsekal Madya Eris Herryanto mengatakan, pengadaan kapal selam ini sudah terlambat 2-3 tahun. Karenanya, pengadaan kapal selam ini akan dipercepat dari 30 bulan menjadi hanya 1,5 tahun. Alokasi kapal selam untuk mendukung TNI AL ini berjumlah tiga unit. "Harganya dalam rupiah Rp9,5 triliun untuk tiga unit," kata KSAL.

Sumber : JURNAS

Monday, September 26, 2011

Sekjen Kemhan : "Jangan Sampai Gagal Beli Kapal Selam..!!"

JAKARTA - Walau diakui sudah terlambat sampai tiga tahun, namun Kementerian Pertahanan sangat tidak ingin gagal membeli armada kapal selam untuk memperkuat jajaran kapal perang TNI-AL. Kini, tahapan pengadaan kapal-kapal perang itu sudah di tingkat Tim Evaluasi Pengadaan.

"Pengadaan kapal selam sudah telat dua hingga tiga tahun," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Eris dalam Rapat Koordinasi Penentu Kebijakan, Pengguna dan Produsen Bidang Alutsista ke XIV dan Bidang Non-Alutsista, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/9).

Dia katakan, selain sudah ke tingkat TEP(Tim Evaluasi Pengadaan), Kemhan juga sudah melakukan penjaringan ke produsen kapal selam untuk melakukan kerja sama.

"Sudah kita jaring ke beberapa produsen. Jangan sampai program ini lewat begitu saja," katanya.


Dirjen Potensi Pertahanan Pos Hutabarat (kiri) dan Sekjen Kementerian Pertahanan Mardya TNI Eris Herryanto (kanan) saat memimpin Rapat Koordinasi Penentu Kebijakan, Pengguna dan Produsen Bidang Alutsista XIV dan Non Alutsista IV di Jakarta, Senin (26/9).

Tak hanya mengenai pengadaan kapal selam, rapat itu juga membahas realisasi program kerja sama pengembangan rudal C-705 dengan China yang telah dipilih TNI-AL sebagai senjata strategis yang akan dipasang di kapal Kawal Cepat Rudal (KCR).

"Letter of Intent" (LOI) tentang program transfer teknologi rudal C-705 telah ditandatangani di Kementerian Pertahanan oleh Dirjen Pothan Kemhan dan Sastind China pada 22 Maret 2011.

Program akuisisi alutsista dari luar negeri perlu dibarengi dengan upaya pemberdayaan industri pertahanan dalam negeri (offset). Program offset telah dituangkan dalam Rencana Pengadaan Alutsista TNI Program Pengadaan Luar Negeri tahun anggaran 2011-2014.

Sumber : ANTARA

Monday, September 5, 2011

TNI AL Rintis Latihan Bersama Kapal Selam

JAKARTA - KSAL Laksamana TNI Soeparno mengatakan, pihaknya tengah merintis latihan bersama kapal selam dengan tiga negara: Amerika Serikat, Singapura dan Korea Selatan.

"Sedang kita rintis, bahkan dengan AS kita harapkan sudah bisa dimulai pada 2012," katanya menjawab ANTARA di Jakarta, Senin (5/9).

KSAL mengemukakan, tahapan kerja sama latihan kapal selam diawali dengan pertukaran awak kapal selam TNI AL dengan awak Kapal Selam AL tiga negara itu.

"Selanjutnya kru akan diperkenalkan dengan kapal selam ketiga negara itu, begitu pun sebaliknya," ujar Soeparno.

Tahapan selanjutnya, tambah dia, latihan bersama kapal selam antara TNI AL dengan US Navy, Singapura dan Korsel dalam bingkai latihan bersama bilateral yang rutin dilakukan TNI AL dengan angkatan laut tiga negara itu.

"Latihan bersama kapal selam itu, tidak melulu kapal selam dengan kapal selam. Bisa saja kapal selam dengan kapal permukaan sesuai skenario latihan yang telah disepakati. Jadi banyak ragam dan pola latihan yang akan dilakukan disesuaikan dengan pola ancaman keamanan maritim nasional, regional maupun internasional," tutur Soeparno.

Tentang ancaman terhadap kedaulatan RI utamanya wilayah perairan dengan kehadiran kapal selam tiga negara itu dalam rangka latihan bersama, Kasal mengatakan,"semua hal tentu sudah diperhitungkan sangat matang,".

Soeparno menambahkan,"banyak kapal selam negara tertentu yang melintas di sekitar wilayah perairan Indonesia selama ini. Indonesia merupakan negara kepulauan dan berada di persimpangan dua samudra besar. Jadi semua kemungkinan sudah dipertimbangan dengan matang,".

Terkait kesiapan kapal selam TNI AL beserta awaknya, Kasal menyatakan sangat siap.

Sumber : ANTARA