Ads by Smowtion

Showing posts with label TNI-AU. Show all posts
Showing posts with label TNI-AU. Show all posts

Tuesday, April 17, 2012

Depo Pemeliharaan TNI AU Buka Pendidikan Teknisi Rudal QW-3

MADIUN - Alutsista TNI AU yang kian berkembang tentunya harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang profesional dan berkualitas. Demikian dikatakan Komandan Depohar 60 Kolonel Tek Ir. Sugeng Arianto, saat membuka Pendidikan Binterampil Teknisi Rudal QW-3 Angkatan II di Depohar 60, Senin (16/4).

Komandan Depohar 60 dalam sambutannya mengatakan bahwa pendidikan Binterampil Teknisi Rudal QW-3 merupakan salah satu aspek pembinaan dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya manusia khususnya bidang persenjataan, sekaligus merupakan upaya nyata, guna mengatasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat.

“Oleh karena itu upaya peningkatan kemampuan dan profesionalitas termasuk kaderisasi selalu diprogramkan secara terus menerus baik langkah maupun tindakan diantaranya melalui penyelenggaraan pendidikan Binterampil Teknisi Rudal QW-3,” kata Dandepohar 60 seperti dilansir Kapentak Lanud Iswahyudi Mayor Sus Sutrisno yang diterima Jurnal Nasional.

Pendidikan Binterampil Teknisi Rudal QW-3 Angkatan II direncanakan berlangsung selama enam minggu dan diikuti sebanyak 10 siswa yang berasal dari Dari Depohar 60, Makhorpaskhas Bandung, Batalyon 463 Paskhas Lanud Iswahjudi,dan Batalyon 467 Paskhas Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Sumber : JURNAS.COM

Thursday, April 12, 2012

Kemhan & TNI AU Bantah Pembelian Eurofighter Typhoon


Eurofighter Typhoon

JAKARTA - Kementrian Pertahanan (Kemhan) dan TNI AU membantah kabar yang menyebutkan adanya rencana ataupun pembelian jet tempur Eurofighter Typhoon buatan Inggris. Hingga saat ini, pembelian pesawat tersebut tidak masuk dalam rencana belanja alutsista TNI.

“Belum ada. Kami tidak ada rencana membelinya,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin di Jakarta, Kamis (12/4). Hal senada diungkapkan oleh Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma Azman Yunus.

Menurutnya, pembelian 24 unit Typhoon hanyalah isu yang tak bertanggung jawab. “Nggak benar isu itu,” kata Azman. Isu pembelian pesawat senilai 2 miliar pound sterling atau senilai Rp29,2 triliun itu muncul sejak tahun 2011 lalu.

Isu tersebut mencuat sejak setahun silam saat Dubes Inggris di Jakarta Mark Canning kembali membuka peluang kerja sama militer dengan Indonesia. Menurutnya Inggris sebelumnya telah dipercaya Indonesia untuk memenuhi kebutuhan peralatan pertahanan penting ke Indonesia, contohnya pesawat Hawk," katanya. Soal Eurofighter Typhoon, ia menyatakan berusaha menjual apa pun ia bisa.

Kini isu itu kembali menguat bersamaan dengan kedatangan PM Inggris Davic Cameron, siang tadi.

Sumber : JURNAS.COM

Saturday, April 7, 2012

TNI AU Butuh Tambahan Penerbang Baru

JAKARTA - Tahun 2014 ini TNI AU melakukan penguatan alutsista dengan mengadakan banyak pesawat. Karenanya, TNI AU memprogramkan penambahan penerbang untuk pengoperasian pesawat-pesawat yang akan datang.

"TNI AU butuh penerbang yang cukup. Perencanaan sudah kami mulai dengan menambah jumlah siswa penerbang dari 30 menjadi 40 orang," kata Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat usai menyaksikan gladi bersih peringatan HUT TNI AU 9 April mendatang di Jakarta, Sabtu (7/4).

TNI AU juga membuka program ikatan dinas pendek bagi para penerbang. Selain membeli enam Sukhoi seperti ramai diberitakan baru-baru ini, TNI AU juga akan melakukan pengadaan pesawat latih jet tempur T-50 Golden Eagle. Super Tucano yang dipersiapkan menggantikan OV-10 Bronco dikatakan Imam masih mengantri untuk pemasangan mesin, meskipun air frame-nya sudah siap.

"Tahun ini Tucano datang sekitar 4-5 unit," katanya. Selain itu, untuk pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), TNI AU akan membangun satu skadron F-16 yang akan ditempatkan di Pekanbaru, Riau. Sembilan unit pesawat CN-295 juga akan memperkuat TNI AU tahun ini.

"Kami juga akan melakukan pengadaan untuk pesawat intai tanpa awak, dua heli Superpuma, enam heli 'Combat & SAR' EC-725 Cougar, pesawat CN-235, serta rudal anti pesawat," kata KSAU.

Sumber : JURNAS.COM

Berita terkait lainnya:

Eurocopter to Supply Six EC-725 to PT Dirgantara Indonesia

TNI AU Jajaki Pengadaan Simulator Jet Tempur Sukhoi

JAKARTA - Indonesia berencana melengkapi skuadron Sukhoi dengan membeli simulator jet tempur tersebut. Namun hingga saat ini belum ditentukan dari negara mana simulator tersebut dibeli.

"Kita beli simulator tahun ini untuk meningkatkan kemampuan penerbang dan mengefisienkan pengeluaran," kata KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat, usai gladi resik HUT TNI AU di Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta, Sabtu (7/4).

Imam menyebutkan TNI AU masih terus menjajaki tiga negara penyedia simulator tersebut. "Simulator kami jajaki dari Rusia, China dan Kanada. Kami cari yang terbaik, dengan pertimbangan manual bahasanya dimengerti," paparnya.



Ia menyebutkan, dasar utama pembelian simulator tersebut yakni untuk mengasah kemampuan setiap penerbang. Menurut Imam, apabila pilot diberi latihan di luar negeri, calon lawan bakal mengetahui dengan mudah skill setiap penerbang.

"Padahal di sini skill penerbanglah yang menentukan ketimbang kemampuan pesawatnya. Dengan adanya simulator, kita bisa mencetak pilot handal tanpa diketahui kemampuannya," ungkap Imam.

"Setidaknya, TNI AU bisa berhemat, karena dana yang harus diperlukan untuk 1 jam pengoperasian Sukhoi mencapai Rp.500 juta," ujarnya.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Friday, April 6, 2012

Persiapan HUT TNI-AU Terus dimatangkan

JAKARTA - Persiapan untuk pelaksanaan demo atau atraksi udara terus dimatangkan menjelang puncak peringatan hari ulang tahun (HUT) TNI Angkatan Udara ke-66 pada 9 April 2012, melibatkan 64 unit pesawat terbang dari berbagai jenis.

Persiapan tidak saja di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, tempat acara dipusatkan, tapi juga di Lanud pendukung, seperti Husein Sastranegara, Bandung. Proses persiapan sudah dilakukan sejak beberapa hari lalu, baik di tempat gladi terpusat maupun pendukung, dan hari Sabtu (7/4) akan digelar gladi bersih terpusat untuk atraksi pada Senin (9/4).

Kaurpenpasum Pentak Lanud Husein Sastranegara Lettu Sus Dani Kusdani, melalui pesan elektronik di Jakarta, Jumat mengatakan, dalam rangka persiapan demo udara HUT TNI Angkatan Udara ke-66, Lanud Husein Sastranegara mendukung kegiatan gladi demo udara.

Gladi dipimpin Langsung Komandan Lanud Husein Sastranegara Kolonel Penerbang Umar Sugeng Hariyono.

Kegiatan itu melibatkan beberapa tipe pesawat TNI Angkatan Udara seperti, sepuluh pesawat C-130 Hercules, tiga pesawat Boeing-737, CN-235, dan Casa-212. Setiap personel dipesan untuk memperhatikan keselamatan terbang dan kerja.

"Latihan hari ini harus lebih baik dari hari sebelumnya agar dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik," ujarnya.

Selain itu, juga telah dilakukan survei rute menggunakan Heli EC-120 B Colibri. Heli ini dipilih karena memiliki kelebihan yang bisa mendukung kegiatan survei. Survey selain untuk pengecekan rute, juga untuk "holding" dan "check point".

Sumber : ANTARANEWS.COM




Monday, April 2, 2012

Menyambut HUT ke-66, TNI AU Gelar Lomba Foto

JAKARTA - Atraksi demo udara oleh 64 pesawat serta 295 pasukan Khas TNI AU dipastikan bakal memeriahkan perayaan peringatan HUT TNI AU ke-66 yang bertempat di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Senin (9/4/2012) mendatang.

Kegiatan ini menarik salah satu organisasi fotografi di Bandung, PAF (Perhimpunan Amatir Foto) untuk berpartisipasi menyelenggarakan lomba foto bertemakan HUT TNI AU. Dengan lomba ini diharapkan akan menarik para pencinta dunia foto dirgantara nasional. Kategori lomba dibagi dalam dua bagian, statik dan dinamis. Hadiah yang akan diperoleh peserta berupa kamera DSLR Cannon EOS 60D plus uang sebesar Rp. 7.500.000,-.

Foto pemenang akan dipamerkan pada saat HUT TNI AU dari 9 s/d 14 April 2012. Pendaftaran peserta dimulai sejak 3 Maret s/d 3 April 2012. Registrasi ulang pada 5 - 7 April. Sedangkan pelaksanaan lomba tanggal 5-7 April.

Seluruh subyek atau materi foto adalah produk kegiatan HUT TNI AU ke-66 Tahun 2012 (pesawat Hawk-100/200; pesawat F-5 E/F; pesawat F-16 A/B; pesawat Sukhoi SU-27/30; pesawat Hercules; pesawat B-737 200/400; pesawat CN-235 atau CN-235 MPA; pesawat C-212; pesawat KT-1 B; pesawat NAS-332/SA-330; pesawat Cessna AAU; pesawat Helicopter EC-120 Colibri; dan pesawat Helicopter Bolcow Basarnas yang digelar mulai tanggal 05 April 2012 hingga 07 April 2012 di Lanud Halim Perdanakusuma.

Sumber : POSKOTANEWS.COM

Thursday, March 29, 2012

Wamenhan Tinjau Hercules Hasil Retrofit ARINC

JAKARTA - Wakil Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Syamsoedin beserta rombongan didampingi Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI A. Adang Supriyadi, SE; melakukan pengecekan langsung ke pesawat angkut TNI AU jenis Hercules C-130 A-1323, di Skadron Udara 31 Halim Perdanakusuma. Pesawat tersebut sebelumnya menjalani perawatan total di Oklahoma, Amerika Serikat.

Pesawat Hercules tersebut tiba di Indonesia pada 17 Februari lalu diawaki oleh Komandan Skadron Udara 31 Letkol Pnb Eko Sudjatmiko selaku Captain-Pilot bersama tujuh belas awak pesawat dari TNI AU langsung dari AS. Kedatangan pesawat ini didukung oleh empat teknisi dari pihak ARINC, perusahaan yang ditunjuk meretrofit Hercules TNI AU tesebut.



Pesawat tersebut diserahkan secara resmi pada 24 Februari dari Pemerintah Amerika yang diwakili Duta Besar AS untuk RI Mr. Scot Marciel kepada pemerintah Indonesia dalam hal ini diwakili oleh Wakil KSAU Marsekal Madya TNI Dede Rusamsi, di Ruang VIP Suma 2 Base-Ops Lanud Halim Perdanakusuma.

Sumber : POSKOTANEWS.COM

Wednesday, March 28, 2012

Heli Colibri TNI AU Dukung Operasi Alur Elang

JAKARTA - Satu helikopter EC-120B Colibri nomor registrasi HL-1205 dari Skuadron Udara 7 disiagakan untuk mendukung latihan pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia dalam Operasi Alur Elang.

Helikopter latih lanjut itu berpangkalan di Pangkalan Udara TNI-AU Suryadarma, Subang, Jawa Barat. Untuk sementara dia digeser ke Terminal Selatan Pangkalan Udara Utama TNI-AU Halim Perdanakusuma dalam operasi itu.

“Sesungguhnya tugas yang kami emban sudah 22 Maret, dengan mendukung Latihan Kilat, Latihan Cakra, Latihan Tangkis Petir dan Kalibrasi Radar Cibalimbing, dan direncanakan akan berakhir sampai 29 akhir bulan ini”, kata Letnan Satu Penerbang Antonius. Dia adalah kapten pilot helikopter itu, di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (28/3).



Selain pengamanan ALKI, Colibri saat ini bertugas sebagai pesawat yang siap untuk operasi Search And Rescue (SAR). Disamping itu, bertugas dalam misi mendukung pengecekan kesiapan unsur demo udara ke Pangkalan TNI Suryadarma dengan rute Halim-Sasaran-Halim.

Colibri, menurut rencana, akan digelar di udara dalam satu formasi aerobatik helikopter, The Pegasus, pada hari puncak HUT ke-66 TNI-AU di Pangkalan Udara Utama TNI-AU Halim Perdanakusuma, 9 April nanti.

Demonstrasi udara mengambil nama kuda sembrani mithologi tunggangan Dewa Zeus itu diketengahkan dalam banyak manuver unik khas kemampuan manuver helikopter.

Sumber : ANTARANEWS.COM

Monday, March 26, 2012

Kementrian Pertahanan Jelaskan Kronologi Pengadaan Sukhoi


Dari kiri ke kanan: KSAL Laksamana TNI Soeparno, KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Wamenhan Sjafrie Samsoeddin dan Sekjen Kemhan Eris Herryanto saat rapat kerja dengan Komisi I DPR di Senayan, Jakarta, Senin (26/3). FOTO ANTARA/Andika Wahyu

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) membantah telah terjadi mark up dalam rencana pembelian enam unit pesawat tempur dari Rusia, Sukhoi seri SU 30MK2.

Dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR, Senin (26/3), Sekjen Kemhan Marsdya Eris Herryanto menjelaskan, pengadaan pembelian pesawat Sukhoi ini terdiri dari tiga tahap yaitu tahap pertama terdiri dari pengadaan pada tahun 2003-2004 sebanyak empat unit, tahap kedua sebanyak enam Sukhoi tahun 2007, dan tahap ketiga sebanyak enam Sukhoi pada tahun 2011-2012.

"Sekilas pengadaan Sukhoi pada tahap kedua, pembayarannya dengan commercial credit tidak menggunakan state credit. Pada 14 Mei 2007, di lingkungan pemerintah dilakukan rapat antara Kemhan, Menkeu, Bappenas, Mabes TNI dan angkatan serta delegasi dari Rusia untuk membahas pengadaan alutsista dari Rusia dengan state credit. Namun tidak dicantumkan hal itu untuk membeli Sukhoi. Sehingga sampai saat ini pembelian Sukhoi tidak menggunakan state credit, tapi menggunakan commercial credit," ujarnya.

Eris mengatakan, dalam pembelian Sukhoi tahap kedua meski menggunakan commercial credit, saat itu Kemenkeu sudah berhubungan dengan sejumlah penerbangan swasta dan nasional untuk turut membiaya pembelian Sukhoi ini. "Jadi pembelian pesawat Sukhoi kedua juga dibiayai konsorsium bank-bank dalam negeri," ujarnya.

Kemudian pada tahap pembelian Sukhoi tahap ketiga, kata Eris, anggaran untuk pengadaan enam Sukhoi tahun 2010-2014 dengan menggunakan fasilitas kredit ekspor untuk TNI AU sebesar 470 juta dolar AS.

Kronologi Pengadaan Sukhoi


"Proses pengadaan Sukhoi dimulai dari awal dengan pengecekan oleh pihak TNI AU dan pengecekan. Pada saat itu yang diajukan adalah Rosoboronexport di Moskow yang juga mempunyai perwakilan di Jakarta (PT Trimarga Rekatama)," ungkap Eris.

Lebih lanjut Eris mengatakan, pada 25 November 2011, sidang Tim Evaluasi Pengadaan (TEP) diberhentikan karena dua hal. Pertama masih terdapat spesifikasi teknis yang akan disuplai Rosoboronexport tidak sesuai dengan kebutuhan TNI AU. Kedua, masih terdapat perbedaan penawaran harga cukup tinggi saat itu.

Saat itu, Rosoboronexport menawarkan satu pesawat Sukhoi yang nantinya akan diserahkan pada tahun 2012 satu pesawat Sukhoi nilainya 55,980 juta dolar AS. Sedangkan yang akan diserahkan pada 2013 harganya 59 juta dolar AS.

"Menurut kami, hal ini tidak lazim dilakukan bagi penyedia jasa. Bahwa kebutuhan alutsista mempunyai nilai yang berbeda pada saat delivery. Sehingga dari dua alasan tersebut kita menghentikan sidang TEP untuk memberikan waktu pada Rosoboronexport untuk meng-adjust harga dan menyampaikan spek pesawat yang diinginkan TNI AU," ujarnya.

Kemudian, kepada pihak Rosoboronexport sudah disampaikan bahwa pemberian harga dalam hal ini tidak terlalu mahal. "Kemudian kami meminta staf khusus Kemhan bidang ekonomi untuk menilai layak tidaknya eskalasi harga yang ditawarkan tersebut, dengan termasuk melihat eskalasi ekonomi di Rusia, harga-harga material dan sebagainya. Alasan perubahan harga ini terkait perkembangan inflasi," ujarnya.

Namun, dalam kunjungan ke Rusia terakhir, akhirnya pihak Rosoboronexport menurunkan harganya menjadi 54,800 juta dolar AS. "Dan, harga itu sama dengan harga pembelian untuk tahun 2013. Dari harga terakhir itu, karena kita membeli enam unit maka total harganya menjadi 328,800 juta dolar AS."

Dari alokasi dana untuk pembelian Sukhoi sebesar 470 juta dolar AS, sisa dari alokasi anggaran itu antara lain digunakan membeli 12 unit engine AL 31 F, spart dan tools.

Sumber : JURNALPARLEMEN.COM

Rusia Paksa Sisa Kredit Untuk Pembelian Kapal Selam

JAKARTA - Pembelian enam unit jet tempur Sukhoi SU-30MK2 dilakukan dengan menggunakan kredit ekspor (KE) karena pemerintah Rusia tak mau menerima jika pembelian dilakukan melalui state credit.

"Padahal, penggunaan state credit lebih menguntungkan Indonesia," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam rapat kerja Komisi I dengan Kemhan dan TNI di DPR RI, Senin (26/3). State credit yang tersedia untuk Indonesia bernilai US$1 miliar dan baru digunakan US$300 juta.

Menurut Sjafrie, pemerintah Rusia meminta state credit digunakan untuk pembelian kapal selam. Namun, pengadaan kapal selam oleh Indonesia tidak dilakukan melalui Rusia melainkan dari Korea Selatan. “Mereka memaksa sisa kredit dihabiskan untuk membeli kapal selam,” ujarnya.

Karenanya, pemerintah Indonesia memutuskan membeli Sukhoi menggunakan kredit ekspor. Namun begitu, untuk menyiasati beban pembayaran, Kemhan memasukkan pembelian suku cadang Sukhoi menggunakan state credit.

Penggunaan state credit sebenarnya lebih menguntungkan bagi pemerintah. Misalnya, tenor (jangka waktu pinjaman) lebih panjang yaitu sekitar 15 tahun, dengan bunga rendah. Dengan kredit ekspor hanya 2-5 tahun dengan bunga yang lebih besar.

Sumber : JURNAS.COM

Saturday, March 24, 2012

Presiden Persilahkan Investigasi Pengadaan Sukhoi

BEIJING - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan aparat penegak hukum dan intansi terkait untuk mengusut dan menginvestigasi dugaan pelanggaran hukum dalam proses pengadaan pesawat tempur Sukhoi.

"Buka dan investigasi secara utuh. Kalau ada penggelembungan, tindak siapapun, baik dari (pemerintahan) dulu sampai sekarang," kata Kepala Negara di sela-sela kunjungan kenegaraan di Beijing, Republik Rakyat China, Sabtu (24/3).

Menurut Presiden Yudhoyono, rakyat memiliki hak untuk mengetahui kebenaran, apalagi sudah ada pihak yang mempertanyakan proses pengadaan pesawat tempur buatan Rusia itu.

Terlepas dari polemik pesawat Sukhoi, Yudhoyono menegaskan TNI tetap harus dipersenjatai secara layak.

Menurut dia, Indonesia sebagai negara besar yang berdaulat harus memperkuat sistem pertahanan. Oleh karena itu, peremajaan alutsista harus dilakukan.

"Setelah perekonomian kita baik, tentara kita perkuat untuk mempertahankan setiap jengkal Tanah Air," katanya.

Sumber : ANTARANEWS.COM

Friday, March 9, 2012

TNI AU Pertimbangkan Hibah Pesawat Tempur F-5E/F Taiwan

JAKARTA - Kepala Staf TNI-AU, Marsekal TNI Imam Sufaat, mengatakan pihaknya mempertimbangkan hibah pesawat tempur F-5E/F Tiger dari Taiwan.

Taiwan merupakan satu sekutu Amerika Serikat. Negara kepulauan itu berhadapan langsung dengan China dan senantiasa mendapat kemudahan dalam pengadaan atau peremajaan arsenal dari Amerika Serikat.

"Ya...itu baik...akan kami pertimbangkan," katanya, usai memimpin serah terima jabatan Komandan Komando Pendidikan TNI-AU, di Jakarta, Jumat (9/3).

Ia mengatakan Taiwan akan menghibahkan sekitar satu skadron F-5E/F. "Kira-kira jumlahnya satu skadron," ungkapnya. Satu skuadron udara berkekuatan antara 12 hingga 20 pesawat terbang, dilengkapi sejenis depo pemeliharaan dan persenjataan.

Sufaat mengemukakan usia pakai pesawat-pesawat F-5E/F Tiger II TNI-AU, yang saat ini tergabung dalam Skuadron Udara 14, akan diperpanjang hingga 2020.

"Saat ini rata-rata jam terbang pesawat-pesawat F-5 kita tersisa 4.000 dari 10.000 jam terbang yang dimiliki. Jika setahun 200 jam terbang, maka bisa sampai 2020," ujar Sufaat.

Pada kesempatan yang sama Asisten Perencanaan Kepala Staf TNI-AU, Marsekal Muda TNI Rodi Suprasodjo, mengatakan semua F-5E/F Indonesia masih dapat berfungsi baik tidak perlu ditingkatkan.

"Jika fungsi-fungsinya masih dapat berjalan baik dan maksimal ...ya tidak perlu di-up grade...hemat biaya," katanya.

Sumber : ANTARANEWS.COM

Kemenhan dan Komisi 1 DPR Pekan Depan Gelar Rapat Bahas Polemik Sukhoi

BANDUNG - Pekan depan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) akan menggelar rapat konsultasi dengan Komisi I DPR RI membahas polemik yang beredar di masyarakat terkait pengadaan alutsista.

"Bukan pemanggilan, tapi rapat konsultasi untuk membahas pengadaan alutsista. Dengan adanya rapat konsultasi ini, kita harap semua polemik yang beredar di masyarakat terkait dugaan mark-up itu bisa reda," kata Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Kemenhan Brigjen TNI Hartind Asrin, di Bandung, Jumat (9/3).

Menurut Hartind, pihaknya belum mengetahui secara pasti kapan rapat konsultasi ini bakal digelar. "Yang jelas pekan depan," katanya.

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDIP Tritamtomo mengatakan rapat konsultasi ini akan digelar secara terbuka sesegera mungkin. Menurutnya, Komisi I terutama mengharapkan kehadiran anggota High Level Comittee (HLC) yang diketuai Wamenhan Sjafrie Syamsoeddin dalam rapat tersebut.

"Karena sesuai dengan instruksi Presiden, Wamenhan-lah yang punya wewenang dalam pengadaan alutsista. Untuk itu, Komisi I akan meminta konfirmasi kepada HLC dan Wamenhan," katanya.

Ditambahkan Tritamtomo, selain membahas mekanisme pengadaan alutsista secara rinci, secara khusus Komisi I juga akan mempertanyakan dugaan adanya mark up dalam pembelian enam pesawat Sukhoi SU-30MK2 dalam proyek pengadaan alutsista TNI AU.

"Untuk menjawab kesimpangsiuran yang selama ini berkembang di masyarakat terkait pengadaan Sukhoi ini. Semua tentunya akan terjawab setelah rapat konsultasi dengan Kemenhan nanti," katanya.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Wednesday, March 7, 2012

64 Pesawat Bakal Meriahkan HUT TNI AU ke-66 di Jakarta



JAKARTA - Peringatan hari ulang tahun ke-66 TNI-AU pada 9 April nanti akan lebih meriah ketimbang biasanya. Demonstrasi statik, dinamis, terbang formasi, hingga aerobatik akan dilakukan 64 pesawat terbang dari berbagai skuadron udara mereka.

"Ke-66 pesawat terbang berbagai tipe itu akan berpartisipasi. Selain pesawat terbang, 2.500 personel terdiri dari dua brigade dan tujuh batalion upacara akan berparade serta defile. Masyarakat umum bisa menyaksikan semua hal itu dari dekat," kata Kepala Dinas Penerangan TNI-AU, Marsekal Pertama TNI Yunus Azman, di Pangkalan Udara Utama TNI-AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (8/3).

Perencanaan ketat sudah dilakukan sejak sebulan lalu. Unsur udara dan darat telah disiapkan sedemikian rupa sehingga bisa saling menguatkan makna peringatan hari jadi TNI-AU kali ini.

Sejak 1 April, katanya, pesawat-pesawat terbang yang terlibat telah hadir di apron Terminal Haji, sisi lain Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma itu.

Terminal inilah yang akan dipergunakan menjadi lokasi persiapan utama unsur-unsur pesawat terbang, di sini pula akan dilakukan peragaan statis pesawat-pesawat terbang yang tidak mengudara. Direncanakan, yang menjadi inspektur upacara adalah Kepala Staf TNI-AU, Marsekal TNI Imam Sufaat.

Jenis dan tipe pesawat terbang yang ada dalam daftar arsenal TNI-AU akan dilibatkan semua. Terdiri dari F-5E/F Tiger (3 unit), Hawk 100/200 (10 unit), F-16A/B Fighting Falcon (6 unit), Sukhoi Su-27 dan Su-30 Flanker (6 unit), 11 C-130 Hercules (9 unit untuk terjun statik, satu latihan terjun bebas dan 1 tanker udara), dan B737-200 Surveillance.

Masih ditambah CN-235/235 MPA (2 unit), C-212 Aviocar (2 unit), KT-1B Wong Bee (8 unit sebagai Jupiter Aerobatic Team), helikopter NAS-332/330 Super Puma dan Puma (4 unit), helikopter EC-120 Colibri, helikopter Bolkow-Blohm, dan Cessna dari Akademi TNI-AU (masing-masing 2 unit).

"Manuver-manuver yang akan diperagarakan semuanya manuver yang biasa dilakukan pesawat militer. Itu sebabnya tidak ada kalangan sipil yang bisa ikut dalam pesawat-pesawat terbang itu," kata Azman.

Sumber : ANTARANEWS.COM

Monday, March 5, 2012

Menhan Akui Ada Selisih Harga Sukhoi

JAKARTA - Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro mengakui adanya selisih antara harga awal dan harga aktual yang harus dibayarkan dalam pengadaan 6 pesawat Sukhoi jenis Su 30 MK2 dari Rusia. Namun, selisih itu tidak besar dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Ada selisih harga tetapi itu terjadi karena faktor eskalasi harga dan inflasi. Contohnya kalau kita beli makanan 2 tahun yang lalu dan sekarang beda. Itu tidak banyak, kecil sekali," kata Purnomo usai rapat di Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (5/3).

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi II DPR TB Hasanuddin menduga ada broker yang bermain dalam pengadaan pesawat senilai US$470 juta ini. Pengadaan yang seharusnya dilakukan oleh Rosoboron Export sebagai perwakilan resmi Rusia di Jakarta, diserahkan kepada Perusahaan X. Akibatnya, negara dirugikan hingga US$50 juta.

Purnomo membantah tudingan ini. Menurutnya, pengadaan Sukhoi tersebut sudah sesuai prosedur. "Justru kita ingin tanya itu datanya dari mana. Kita dealnya dengan Rosoboron Eksport, tidak dengan yang lain. Itu agen resmi dari pemerintah Rusia," katanya.

Ketika ditanya berapa selisih harga antara pembayaran aktual dengan harga awal pesawat tersebut, Purnomo mengaku lupa. "Angkanya saya nggak ingat. Tetapi tidak ada kenaikan yang signifikan karena kita juga tidak bodoh. Kalau sampai melonjak sampai terjadi mark up, nggak ada itu," cetusnya.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan tanggung jawab pengadaan berada sepenuhnya di Kemenhan. TNI AU sebagai user Sukhoi, kata Agus, hanya mengajukan rencana tender lewat TNI.

"Lalu TNI meneruskan ke Kementerian Pertahanan. Kemenhan lalu membentuk tim evaluasi pengadaan. Yang memutuskan Kementerian Pertahanan," katanya.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Program Imparsial Al Araf mengatakan banyak kejanggalan dalam pembelian enam pesawat Sukhoi itu. Dalam analisanya, Imparsial mengatakan harga pesawat kemahalan dan proses pengadaan tidak wajar.

"Pertama, mengapa Kemenhan lebih memilih membeli Sukhoi dengan sumber kredit komersial, tidak menggunakan fasilitas state loan yang telah disediakan pemerintah Rusia sebesar US$1 miliar?" tanyanya.

Kedua, lanjut Al Araf, Imparsial juga mempertanyakan kenapa harga pembelian Sukhoi bisa mencapai US$470 juta-US$500 juta untuk enam unit.

"Sedangkan saat pengadaan tahun 2010, nilai pembelian Sukhoi dari produsen yang sama hanya berkisar US$55 juta. Jika harga kesepakatan adalah US$500 juta untuk enam Sukhoi, ini artinya harga satuan Sukhoi adalah US$83 juta," jelas Al Araf.

Selain itu, Al Araf juga mempertanyakan mengapa pemerintah menggunakan pihak ketiga dalam pengadaan ini. "Keterlibatan agen ini sebenarnya keluar dari semangat untuk proses pengadaan alutsista melalui mekanisme G to G?," katanya.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Sunday, March 4, 2012

KSAU Resmikan Satuan Radar Timika


KSAU Marsekal TNI AU Imam Sufaat menandatangani Prasasti dan Menekan Tombol Pembukaan Plang Papan Nama saat peresmian Satuan Radar TNI AU 243 Timika di Kilo 8, Timika, Papua, Senin (5/3). FOTO ANTARA/Spedy Paereng/Koz/pd/12.

TIMIKA - Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat meresmikan Satuan Radar 243 Timika yang berlokasi di Kampung Kamoro Jaya-SP1, Timika, Papua, Senin (5/3).

Bersamaan dengan itu, Kasau juga melantik Letkol (Lek) Sudirman sebagai Komandan Satuan Radar (Satrad) 243 Timika.

Marsekal Imam Sufaat mengatakan pembangunan Satuan Radar 243 Timika merupakan perwujudan dari program strategis yang telah disusun untuk mengcover situasi dan kondisi serta kerawanan wilayah udara bagian timur Indonesia terhadap pelanggaran udara.

Satuan Radar 243 Timika yang berada di jajaran Kosek Hanudnas IV Biak dibangun sejak 2009 di atas lahan seluas 298.786 meter.

Radius jangkauan operasi radar di Timika akan over lapping dengan Satuan Radar 245 Saumlaki bagian barat di Provinsi Maluku dan juga akan over lapping dengan Satuan Radar 244 Merauke di bagian timur Papua.

Dengan telah beroperasinya radar-radar tersebut, maka seluruh wilayah udara Indonesia bagian timur dapat dicover dan tidak ada lagi area kosong yang tidak termonitor radar.

Melalui beroperasinya Satuan Radar Timika ini juga konsep strategis gelar Kosek Pertahanan Udara Nasional IV di wilayah Indonesia bagian timur dapat terus diwujudkan mengingat di wilayah ini terdapat sejumlah obyek vital nasional dan merupakan jalur penerbangan internasional.

Marsekal Imam Sufaat mengakui hingga saat ini kemampuan, kekuatan dan gelar radar TNI AU dibandingkan dengan luas wilayah udara nasional Indonesia belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan yang diharapkan.

Dengan keterbatasan jumlah radar yang dimiliki itu mengakibatkan pelaksanaan tugas pengamatan dan pemantauan seluruh obyek yang bermanufer di wilayah udara Indonesia belum dapat dilaksanakan secara maksimal.

Sejumlah Pesawat Tempur Akan ditempatkan di Papua

Markas Besar TNI AU berencana menempatkan sejumlah pesawat tempurnya di wilayah Papua. KSAU mengatakan, rencana penempatan sejumlah pesawat tempur tersebut dalam rangka menjaga kedaulatan udara wilayah timur Indonesia.

"Kami ada rencana seperti itu ke depan. Sementara ini pesawat-pesawat TNI AU yang dikirim ke Papua hanya untuk mengenal medan sekaligus melatih operasional suatu pangkalan," jelas KSAU Imam Sufaat.

Imam mengatakan, Bandara Mozes Kilangin Timika layak untuk didarati pesawat tempur. Namun pesawat tempur tidak bisa dioperasikan dari Pangkalan TNI AU Timika karena terkendala ketersediaan bahan bakar mengingat pesawat tempur setelah terbang 1,5 jam harus mengisi kembali bahan bakar.

"Ini yang menjadi kendala. Kami berharap Pertamina bisa masuk ke Timika sehingga nantinya pesawat tempur kita bisa dioperasikan dari Timika. Hal itu tidak berarti kondisi di Timika tidak aman, tetapi untuk penerbang sendiri harus tahu kondisi di suatu tempat," jelas orang nomor satu di jajaran TNI AU itu.

Sejauh ini baru tiga Bandara di Papua yang bisa didarati oleh armada pesawat tempur yaitu Biak, Jayapura dan Merauke.

Sumber : ANTARANEWS.COM

Saturday, March 3, 2012

Panglima TNI: Soal Calo Sukhoi Harus Dicek Kebenarannya!


Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono (Foto: 303-blog.blogspot.com)

JAKARTA - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menegaskan benar tidaknya keterlibatan calo dalam pengadaan enam unit jet tempur Sukhoi dari Rusia, harus dicek kembali kebenarannya.

"Ya saya kok merasa keberadaan calo itu belum tentu benar, harus dicek lagi kebenarannya," katanya menjawab ANTARA usai memimpin panen padi varietas unggul Siliwangi Parikesit Dewi Sri Agung (SP DSA) di Desa Tegal Panjang, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (3/3).

Ia menegaskan setiap proses pengadaan alutsista senjata termasuk jet tempur Sukhoi harus diajukan dari markas besar masing-masing angkatan, yakni Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara setelah sebelumnya melalui tender terbuka.

"Setelah ditentukan produk dengan spesifikasi teknik dan kebutuhan operasi yang dibutuhkan, maka diajukan ke Mabes TNI untuk dilanjutkan pengajuannya ke Kementerian Pertahanan. Di Kementerian Pertahanan diuji kembali hingga memasuki tim evaluasi pengadaan. Di sinilah baru ketahuan apakah ada mark up atau tidak, ada calo atau tidak," kata Agus.

Jika memang ada penggelembungan harga atau keberadaan calo, maka semua pihak yang terlibat dari mulai tingkat mabes angkatan hingga Panglima TNI yang meneruskan pengajuan itu ke Kementerian Pertahanan harus bertanggung jawab.

"Tapi saya merasa kok tidak benar. Proses pengadaannya juga terus berjalan. Ya harus dicek kembali," ujar Panglima TNI menegaskan.

Kementerian Pertahanan menyatakan tidak ada calo dalam pengadaan jet tempur Sukhoi.

"Sampai detik ini, kami hanya berhubungan dengan pihak JSC Rosoboronexport sebagai wakil resmi pemerintah Rusia dalam pengadaan pesawat Sukhoi," kata Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan RI (Kepala Baranahan Kemhan RI) Mayjen TNI Ediwan Prabowo.

Sumber : ANTARANEWS.COM

Friday, March 2, 2012

Kementrian Pertahanan Bantah Adanya Broker Dalam Pengadaan Sukhoi

BANDUNG - Kementerian Pertahanan menegaskan tidak ada calo dalam pengadaan enam jet tempur Sukhoi.

"Sampai detik ini, kami hanya berhubungan dengan pihak JSC Rosoboronexport sebagai wakil resmi pemerintah Rusia dalam pengadaan pesawat Sukhoi," kata Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan RI (Kepala Baranahan Kemhan RI) Mayjen TNI Ediwan Prabowo di Bandung, Jumat (2/3).

Kepada ANTARA dia mengatakan, sejak proses awal pengadaan jet tempur Sukhoi hingga penandatanganan kontrak Kementerian Pertahanan tidak pernah berhubungan dengan pihak lain, termasuk agen apalagi calo, selain JSC Rosoboronexport.

Ediwan mengakui setiap produsen asing yang memasok kebutuhan alutsista TNI, termasuk Sukhoi, memiliki mitra lokal di Indonesia.

"Namun, mitra lokal itu hanya memfasilitasi keperluan administrasi pihak produsen, dalam hal ini Rosoboronexport, dengan Kemhan. Akan tetapi, tidak ikut dalam penentuan produk apalagi harga, terlebih lagi kontrak. Tidak," katanya.

Ditegaskan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, penentuan produk, harga, hingga kontrak ditandatangani hanya dilakukan pemerintah dengan pemerintah atau pemerintah dengan pihak produsen langsung.

"Tidak ada agen, apalagi calo. Dan, mitra lokal pun hanya sebatas memfasilitasi keperluan administrasi saja," kata Ediwan menegaskan.

Klarifikasi Ediwan ini terkait isu yang dilontarkan Wakil Ketua Komisi I DPR, T.B. Hasanuddin yang menenggarai adanya calo dalam pengadaan enam Sukhoi dari Rusia.

Hasanuddin mengatakan kontrak yang dilakukan tidak melalui Rosoboronexport, tetapi melalui Kredit Export lewat sebuah PT X sebagai broker.

Hasanuddin menambahkan dari penjelasan yang dirilis oleh Rosoboronexport, harga Sukhoi SU 30MK2 per Juli 2011 sekitar 60-70 juta dolar AS/unit (harga Sukhoi yang dibeli sebelumnya hanya 55 juta dolar AS/unit) atau maksimal hanya 420 juta dolar AS untuk enam unit pesawat Shukhoi.

Kementerian Pertahanan sebelumnya melakukan penadatanganan kontrak pengadaan enam Sukhoi Su-30 MK2 antara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan JSC Rosoboronexport Rusia, pada akhir 2011 di Kantor Kemhan RI, Jakarta.

Dalam acara penyerahan kontrak tersebut, pihak Kemhan diwakili Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan RI (Kepala Baranahan Kemhan RI) Mayjen TNI Ediwan Prabowo, sementara pihak Rosoboronexport Rusia diwakili oleh pejabat perwakilannya di Indonesia, Vadim Araksin.

Pengadaan enam jet tempur ini untuk melengkapi 10 Sukhoi yang sudah dimiliki TNI AU sehingga nantinya genap menjadi satu skuadron. Diharapkan dengan adanya penambahan ini kekuatan tempur TNI AU dalam menjaga kawasan udara Indonesia jadi lebih kuat.

Sumber : ANTARANEWS.COM

Thursday, March 1, 2012

Ada Dugaan Mark-up Pembelian 6 Jet Tempur Sukhoi

JAKARTA - Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin menduga ada penggelembungan harga atau mark up dalam pengadaan enam jett tempur jenis Sukhoi SU-30 MK2 oleh pemerintah.

Tubagus menjelaskan, akhir 2010 DPR menyetujui pembelian enam pesawat Sukhoi itu seharga 470 juta dollar AS melalui kerja sama dengan pemerintah Rusia. Pemerintah Rusia, kata dia, menyediakan state credit sebesar 1 miliar dollar AS.

Namun, Tubagus mengaku menerima informasi bahwa Kementerian Pertahanan Indonesia melakukan kontrak tidak melalui Rosoboron Export yang merupakan perwakilan Pemerintah Rusia di Jakarta. "Tapi lewat PT X sebagai broker," kata Tubagus, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Jakarta, Kamis (1/3).

Tubagus menambahkan, berdasarkan penjelasan pihak Rosoboron, harga Sukhoi SU 30-MK2 per Juli 2011 sekitar 60-70 juta dollar AS per unit. Harga Sukhoi yang dibeli sebelumnya hanya 55 juta dollar AS per unit.

Jika memakai harga tertinggi yakni 70 dollar AS, kata dia, maksimal harga hanya 420 juta dollar AS untuk enam unit. "Pertanyaannya mengapa harus menggunakan PT X sebagai broker? Padahal ada perwakilan Rusia di Jakarta. Mengapa ada perbedaan harga sampai 50 juta dollar AS?" kata Tubagus.

Dikatakan Tubagus, proses pembelian pesawat itu tinggal menunggu barang datang ke Indonesia. Komisi I pernah menanyakan hal itu ke pemerintah. "Tapi jawabannya normatif. Biar KPK aja (yang tangani)," pungkas dia.

Sumber : KOMPAS.COM

Wednesday, February 29, 2012

Lanud Supadio Sudah Siapkan Hanggar UAV

PONTIANAK - Pangkalan Udara TNI AU Supadio Pontianak masih menunggu kedatangan pesawat tanpa awak (UAV) yang rencananya memperkuat pertahanan keamanan wilayah udara di kawasan perbatasan Indonesia.

"Sekarang hanya tinggal menunggu kabar pengiriman dari Kementerian Pertahanan dan Keamanan," kata Komandan Pangkalan Udara TNI AU Supadio Kol (Pnb) Kustono di Pontianak, Rabu (29/2).

Menurut dia, Lanud Supadio sifatnya hanya sebagai daerah penempatan dari pemerintah pusat atas pesawat itu. "Sekarang, untuk kantor dan hanggar pesawat tanpa awak itu sudah siap," kata dia.

Personel yang menangani pesawat tanpa awak tersebut, katanya, saat ini juga telah dipersiapkan di Mabes TNI AU. "Saat ini pun kami juga sedang mempersiapkan diri untuk itu," katanya.

Pesawat tanpa awak mempunyai fungsi yang sangat strategis untuk mempertahankan kedaulatan NKRI karena dapat dikendalikan dari jarak jauh.

Selain itu, pesawat tersebut juga dapat dipersenjatai dan dilengkapi dengan pendeteksi untuk kondisi malam dan siang hari.

Ia menjelaskan, keberadaan pesawat tanpa awak selain untuk memperkuat pertahanan NKRI di matra udara juga bisa berfungsi sebagai pendeteksi berbagai kegiatan ilegal dalam patroli perbatasan, baik laut maupun udara.

Selain itu, katanya, juga bisa berfungsi untuk mendeteksi dan mencegah terjadinya kebakaran hutan yang marak di wilayah Kalimantan dan pulau lainnya.

Rencana TNI AU menambah satu skadron berupa pesawat tanpa awak di Pangkalan Udara Supadio Pontianak untuk memperkuat kemampuan pemantauan termasuk daerah perbatasan di Kalbar sudah dilakukan sejak 2010.

Status Lanud Supadio Pontianak akan ditingkatkan menjadi Kelas A atau Bintang 1. Salah satu syarat minimalnya mempunyai dua skadron. Saat ini Lanud Supadio menjadi pangkalan Skadron Udara I Elang Khatulistiwa. Pesawat yang digunakan jenis Hawk.

Sumber : ANTARANEWS.COM