Ads by Smowtion
Showing posts with label TNI-AD. Show all posts
Showing posts with label TNI-AD. Show all posts
Wednesday, March 28, 2012
Pelepasan Prajurit Kostrad Untuk Tugas di Perbatasan RI-Malaysia
SEMARANG - Panglima Divisi 2 Kostrad Mayjen TNI Ridwan melakukan pemeriksaan pasukan, pada upacara pelepasan prajurit TNI dari Batalyon 413 Divisi 2 Kostrad yang akan bertugas di perbatasan RI-Malaysia di Kaltim, di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jateng, Rabu (28/3). Sebanyak 620 prajurit yang diberangkatkan dengan menumpang KRI Teluk Bone itu antara lain akan bertugas mencegah penyelundupan kayu dan menjaga patok batas negara RI-Malaysia agar tidak bergeser. FOTO ANTARA/R. Rekotomo/ed/ama/12.



Tuesday, March 27, 2012
Super Cobra Bakal Jaga Perbatasan RI-Malaysia
"Kami akan tempatkan di Berau dan Nunukan," kata Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) VI Mulawarman Mayjen TNI Subekti di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) Selasa (27/3).
Saat ini, ujarnya, Kodam VI Mulawarman sedang menyiapkan basis bagi skuadron heli tersebut. "Kami gunakan anggaran antara Rp17 miliar hingga Rp19 miliar untuk persiapan pangkalan skuadron heli tempur tersebut," lanjutnya.
Super Cobra adalah helikopter buatan Bell, Amerika Serikat, dan pengembangan dari Huey Cobra yang berjaya pada saat perang Vietnam. Persenjataannya senapan mesin gatling 20 mm, roket Hydra, rudal Sidewinder untuk pertempuran udara, dan rudal penghancur tank Hellfire.
"Super Cobra ini adalah pilihan utama. Namun demikian, kami punya pilihan lain yang lebih bersahabat dengan keuangan, yaitu heli serbaguna Agusta Westland," kata Panglima yang pernah menjadi Asisten Perencanaan (Asrena) Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) di Mabes TNI tersebut.
Sumber : MEDIAINDONESIA.COM
Tuesday, March 6, 2012
Kemhan Siapkan Opsi Pembelian Tank Dari Jerman
Selain tank Leopard 2A4, Jerman juga menawarkan 2A5 bekas pakai yang akan diupgrade kemampuannya setara type 2A6 kepada Indonesia (Foto: Krauss-Maffei Wegmann GmbH & Co. KG.)
JAKARTA - Kementerian Pertahanan RI (Kemhan) memilih opsi pengadaan tank Leopard dari Jerman untuk antisipasi jika Belanda menolak rencana Indonesia membeli tank bekas pakai Angkatan Daratnya.
Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Syamsuddin, mengatakan, Jerman merupakan original country dari pembuat Leopard. Setiap pembelian tank Leoprad tentunya harus menggunakan izin penjualan dari Jerman. Meskipun yang dibeli bekas pakai negara diluar Jerman.
"Opsi yang Kemhan lakukan tidak semata-mata dari Belanda. akan kita lihat proses mana yang lebih mudah, lebih lancar, lebih efisien. Itu yang kami simpulkan nanti pilih yang mana," ungkapnya di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (6/3).
Saat ini pihaknya sedang mengadakan observasi yang dilaksanakan oleh tim Angkatan Darat untuk mengetahui keunggulan, baik secara teknis maupun taktik.
"Dari Jerman mengusulkan adanya kerjasama modernisasi secara government to government. Artinya, pembelian Leoprad tidak hanya membeli peralatannya, namun juga sistemnya," ungkapnya.
Kemhan secara politik juga masih menunggu jawaban final dari Pemerintah Belanda. Terutama sinkronisasi pemerintah dengan parlemen di Belanda.
"Apapun hasilnya akan kita tunggu. Tapi kami terus menyiapkan opsi. Sehingga tidak menggangu target modernisasi peralatan sampai tahun 2014," tegasnya.
Meski demikian, sampai saat ini pemerintah belum melakukan negosiasi dengan Jerman untuk pembelian tank tersebut. Pemerintah menganggarkan US$280 juta untuk pengadaan Leopard.
Dia menuturkan, Indonesia masih mempunyai waktu untuk melihat kesimpulan akhir dari Belanda pada akhir Maret ini. Jika kesimpulan sudah dibuat Belanda sebelum akhir Maret, maka kerjasama tetap dilanjutkan.
"Tetapi seandainya melewati batas waktu yang ditentukan akan kami lewatkan. Opsinya tetap dua Jerman dan Belanda," katanya.
Sumber : VIVANEWS.COM
Wednesday, February 29, 2012
Wamenhan : Sudah Waktunya Modernisasi Alusista
PARIS - Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengakui sudah saatnya Indonesia melakukan modernisasi peralatan militer khususnya alutsista sesuai dengan perkembangan teknologi dalam menjaga keamanan wilayah Indonesia.Diakuinya, hal ini sejalan dengan kemajuan ekonomi Indonesia yang terus meningkat yang selama ini menjadi fokus pemerintah dalam pembangunan kesejahteraan masyarakat, ujarnya, Rabu (29/2) malam.
Kehadiran Wamenhan di Paris beserta KASAD Jendral TNI Pramono Edhi Wibowo dalam rangka penandatanganan kerja sama bidang pertahanan antara Kementerian Pertahanan RI dengan Kementerian Pertahanan Prancis yang dilakukan IGA Daniel Argenson di Paris.
Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan bahwa latar belakang penandatanganan kerja sama antara Indonesia dan Prancis adalah dalam rangka menindaklanjuti joint declaration on strategic partnership antara Pemerintah Indonesia dan Prancis yang disepakati dalam pertemuan Presiden SBY dan PM Perancis Francois Fillon pada Juli tahun lalu.
Menurut Sjafrie, kunjungannya ke Paris intinya adalah meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Prancis dan memastikan konsep dari kesepakatan yang dilakukan antara kedua kepala negara dalam partnership cooperation agreement yang saling menguntungkan kedua Negara .
Selain itu, katanya, kedua negara juga sepakat meningkatkan kerja sama di bidang pertahanan dan upaya menjaga perdamaian dunia.
"Prancis ingin meningkatkan kerja sama dengan Indonesia di bidang penanganan aksi terorisme dan pengamanan jalur maritim dari pembajakan," ujarnya.
Dikatakannya, Indonesia dikawasan regional sangat diperhitungkan khususnya pada 2011 di mana Indonesia menjadi ketua dari ASEAN yang sepakat untuk menciptakan keamanan bersama. Khususnya dalam pengamanan selat Malaka yang menjadi lintasan internasional.
Sumber : MEDIAINDONESIA.COM
Wednesday, February 15, 2012
Tank Uzur Batalyon Kavaleri II
Pembelian Tank Diharapkan Selesai Sebelum 2014
"Sekali lagi saya tegaskan, kalau Belanda menjual kami beli, tapi kalau tidak kami pergi. Tunggu saja perkembangan berikutnya," kata mantan Pangkostrad tersebut.
Pihaknya juga mengatakan saat ini Jerman menjajaki dan menawarkan tank jenis tersebut ke Indonesia. Menurut Pramono, tank buatan Jerman menjadi alternatif jika target awal tidak kesampaian.
"Memang ada tawaran dari Jerman. Hanya saja kami belum bersikap, tapi itu bisa dijadikan alternatif. Yang pasti sebelum 2014 sudah harus selesai," tutur mantan Danjen Kopassus tersebut.
Jika pembelian Tank Leopard yang alokasi anggarannya mencapai 280 Juta US Dollar berjalan mulus, diharapkan bisa menjadi prestasi serta menaikkan wibawa bangsa.
Anggaran dari pemerintah untuk modernisasi peralatan TNI AD sebesar Rp14 triliun.
"Di antaranya: pengadaan tambahan helikopter, panser anoa dari PT Pindad, serta alutsista lainnya. Tank Leopard ini hanya bagian kecil saja kok," tukas KSAD. Tahun ini juga akan direalisasikan pembelian meriam, rudal anti pesawat, peluncur roket multiras dan lainnya.
Komisi 1 DPR Ajukan Klausul
Komisi I DPR menyatakan tidak menolak niat pemerintah untuk melakukan pengadaan alutsista jenis tank. Namun, khusus untuk pengadaan tank jenis Leopard dari Belanda,Komisi I DPR mengajukan syarat dua klausul.

Leopard 2A5 milik AD Belanda di Bosnia (Foto: MILITARYPHOTOS.NET)
Klausul pertama adalah secara teknisIndonesiamembutuhkan tank jenis tempur berat itu dan ada jaminan tidak akan ada embargo pemeliharaan dan suku cadang di masa mendatang.
Klausul kedua, ada alih teknologi (transfer of technology) dalam pembelian tank Leopard tersebut.“Jika memang Mabes TNI tetap meminta Leopard bekas itu,Komisi I DPR harus diyakinkan secara teknis dan politis.
Jika hal itu tidak dipenuhi oleh tim negosiasi Mabes TNI, lebih baik membeli yang baru kendati jumlahnya menjadi separuhnya,”ungkap Mahfudz di Jakarta, Rabu (15/2).
Komisi 1 menduga, Kemenhan dan Mabes TNI akan mati-matian berusaha untuk melancarkan rencana pembelian tank Leopard itu, termasuk bakal melancarkan klausul yang diinginkan Komisi I DPR. Langkah ini dilakukan agar tidak ada benturan di kemudian hari. Karena itu, Kemenhan dan TNI harus menjajaki semuanya. “Semua klausul tersebut harus dipenuhi mengingat belanja alutsista setiap tahun selalu menelan anggaran negara yang besar,”tandasnya.
Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengaku, tawaran tank Leopard sebenarnya bukan hanya dari Pemerintah Belanda, melainkan juga dari pemerintah Jerman. “Tawaran Belanda adalah tank bekas yang jika jadi dibeli oleh Indonesia akan di upgrade kemampuannya,” ungkap Sjafrie. Sedangkan Leopard yang ditawarkan Jerman, ujarnya, adalah refurbishment. Artinya bukan tank bekas yang akan dibeli sebab Leopard asal Jerman ini sudah ditingkatkan lebih dulu kemampuannya.
Sumber : ANTARANEWS.COM | SEPUTARINDONESIA.COM
Thursday, February 9, 2012
TNI Minat Beli 8 Heli AH-64 Apache
JAKARTA - TNI berencana membeli delapan unit heli tempur "Apache" dari Amerika Serikat. "Kalau tidak salah sebanyak delapan unit," kata Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin di Jakarta, Kamis (9/2).Sjafrie menambahkan, pengadaan delapan unit AH-64'Apache' tidak begitu saja ditawarkan Amerika kepada pemerintah Indonesia. "Rencana pembelian heli ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Mereka tidak menawarkan, kita yang mencari," ujarnya.
Wamenhan mengemukakan belum ada kesepakatan antara pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat terkait pembelian delapan unit "Apache" tersebut.
Helikopter Apache merupakan heli serang yang dioperasikan dua orang kru. Heli tersebut dikembangkan oleh Hughes Helicopter untuk Angkatan Darat Amerika Serikat untuk menggantikan AH-1 Cobra.
Sumber : ANTARANEWS.COM
Tuesday, February 7, 2012
Parlemen Belanda Resmi Menolak Menjual Tank Leopard Ke Indonesia
Hal ini disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin, atas hasil pertemuan anggota Parlemen Belanda dengan anggota Komisi I DPR pada pekan kemarin.
"Jadi, pada Minggu kemarin (5/2), salah satu anggota parlemen Belanda dari Partai Groenlink bernama Mariko Peters, datang dan melakukan pertemuan dengan Komisi I DPR," tegas Tubagus Hasanuddin di Gedung DPR, Selasa (7/2).
Menurut Hasanuddin, anggota Parlemen Belanda tersebut diterima oleh anggota Komisi I Helmy Fauzi. Intinya, dalam pertemuan tersebut, anggota Parlemen Belanda tersebut menyampaikan informasi bahwa Parlemen Belanda memutuskan, melarang penjualan Tank Leopard.
"Bahkan mereka mengancam pemerintahannya sendiri, jika sampai nekat menjual Tank Leopard itu ke Indonesia," tambahnya.
Menurut Hasanuddin, berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh anggota parlemen Belanda tersebut, salah satu alasan Parlemen Belanda tidak menyetujui penjualan tank Leopard ke RI adalah terkait pelanggaran HAM.

Tank Leopard AD Belanda (Foto: FLICKR.COM)
"Kalau itu alasannya, jelas kita juga membantahnya,soal praktek pelanggaran HAM itu. Karena Belanda juga telah melanggar HAM berat dengan menjajah rakyat dan bangsa Indonesia selama 3,5 abad. Itu riil dan fakta,"ujarnya.
Jadi,kata Hasanuddin, dengan penjelasan yang telah disampaikan oleh anggota Parlemen Belanda tersebut, tertutup sudah pintu pembelian Tank Leopard sebagaimana direncanakan Kemenhan selama ini.
"Cukup berat Belanda menjual Leopardnya ke RI. Jadi pemerintah sudah tidak perlu lagi banyak berharap dapat memiliki Tank Leopard dari Belanda. Karena Parlemen Belanda sudah mengeluarkan larangan penjualan Leopard ke RI. Makanya, saya juga setuju dengan sikap KASAD. 'Lu jual,gua beli. Lu tidak jual, gua tidak maksa'. Itu sudah pas sikap seperti itu, saya setuju," tegasnya.
Sumber : JURNAL PARLEMEN
Wednesday, February 1, 2012
Pemaparan KSAD Soal MBT Leopard Buat Terkesima Anggota Komisi 1 DPR
JAKARTA - Kehadiran Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo dalam Rapat Kerja Kementerian Pertahanan dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa (24/1), sudah dinanti-nanti. Wakil rakyat pun menyiapkan puluhan pertanyaan yang sebagian besar mengarah pada ketidaksetujuan mereka atas rencana TNI AD membeli main battle tank.Yang terjadi, Pramono selama 20 menit, dengan kemampuan retorikanya, membuat sebagian anggota Komisi 1 DPR terdiam. Ia memaparkan kondisi alutsista TNI AD. Mereka yang hadir seperti menahan napas dan sesekali bertepuk tangan.
Pramono memulai kisahnya dari alokasi anggaran untuk modernisasi peralatan TNI AD senilai Rp14 Trilyun. Ia lalu mengadakan studi, meninjau kondisi geopolitik dan perimbangan kekuatan di kawasan, komparasi kekuatan Angkatan Darat sejumlah negara dilihat dari jumlah prajurit dan alutsista yang dipakai. Indonesia tertinggal jauh.
Disimpulkan, alokasi anggaran akan dibelikan main battle tank (MBT), rudal anti pesawat dan peluncur roket multilaras. Rudal anti pesawat milik TNI AD saat ini dibuat tahun 1960 dan tidak mampu lagi mengejar pesawat yang saat ini kecepatannya sudah supersonik. "Meriam dari ditangani letnan dua yang baru lulus sampai letnan itu pensiun meriamnya masih harus bekerja," ceritanya.
Pramono bercerita bagaimana ia meminta masukan dari atase pertahanan sampai pengguna. "Biasanya yang diminta tak dibelikan, yang dibelikan tak dibutuhkan. Saya ingin mengubah ini," katanya.
Belanda yang Menawarkan
Untuk survey pembelian MBT Leopard, tim TNI AD yang dipimpin oleh wakil KSAD Letjen Budiman dikirim ke Eropa. Belanda menawarkan 100 tank Leopard karena akan menghapus satu divisi tank demi penghematan. Harga yang diperoleh TNI AD lebih murah dibandingkan informasi dari rekanan di Indonesia. "Salahkah kami kalau dengan US$287 juta dari 44 tank ternyata bisa dapat 100 unit?" katanya.Walaupun ada tentangan dari parlemen Belanda, ada tim dari kementrian Pertahanan Belanda datang ke Indonesia menemui Pramono. Mereka bertanya, apakah Indonesia serius ingin membeli MBT Leopard. Pramono menjawab, "Belanda jual, aku beli. Belanda tidak jual, aku pergi. Kita tak akan mengemis."
Pramono menegaskan, rencana pembelian Leopard itu masih dipelajari, tetapi sudah mendapat sorotan dari sejumlah negara. Ia meminta maaf kalau sekiranya kemampuan komunikasinya kurang sehingga menimbulkan salah persepsi dari Komisi 1 DPR. Prosesnya berlanjut dengan ada undangan resmi pemerintah Belanda kepada TNI AD. Jerman juga datang ke Indonesia untuk bernegoisasi.
Kepemilikan ALutsista Menaikkan Wibawa Bangsa
Pidato Pramono ditunjang tim TNI AD yang menampilkan diagram dan foto di layar. Tampak foto militer Malaysia sedang latihan perang di utara Kalimantan. Penyamaan dengan Malaysia dan Singapura yang memiliki tank kelas berat menjadi alasan utama TNI AD. Di Asia Tenggara hanya Timor Leste, Filipina dan Indonesia yang tak memiliki tank kelas berat.
Tank PT-91 Pendekar milik AD Malaysia dalam sebuah latihan perang di Utara Kalimantan. (Foto: Stardefense.blogspot.com)
Ia juga menegaskan, kepemilikan senjata utama yang kuat akan menaikkan wibawa bangsa. "Lu cabut patok, gue sikat," katanya, yang mendapatkan tepuk tangan panjang dari hadirin.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Wakil Ketua Komisi 1 DPR Tubagus Hasanuddin dan Ketua Komisi 1 DPR Mahfudz Siddiq memberikan apresiasi. "Ada ungkapan yang saya demen, Pak. Luar biasa. 'Lu cabut patok, gue sikat'," kata Mahfudz.
Anggota Komisi 1 DPR, Tri Tamtomo, Susaningtyas Kertopati dan Enggartiasto Lukito, mengaku terkesima dengan penjelasan KSAD. Tampaknya jalan tank dari Belanda itu akan mulus.
Sumber : KOMPAS
Sunday, January 29, 2012
Panglima TNI : Opsi Pembelian Tank Akan Digelar
Main Battle Tank Rusia, T-90E (versi ekspor). Unit barunya dijual sekitar US$ 2,23 juta, nyaris sama dengan tank Leopard bekas pakai AD Belanda. (Foto: Uralvagonzavod)
JAKARTA - Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menyatakan, banyak opsi untuk membeli tank guna melengkapi alutsista TNI AD. Oleh karena itu, menurut Agus, tidak perlu berpolemik mengenai rencana pembelian tank Leopard.
"Kan memang belum final," ujar Agus di DPR RI, Jakarta, Senin (30/1). Penjelasan menyeluruh mengenai rencana pembelian alutsista memang harus dilakukan sebelum memutuskan pilihan bersama-sama DPR.
"Kalau mau beli peralatan itu kan ada opsinya. Banyak. A, B, C, semuanya digelar, lalu mana yang cocok, nah itu baru dibeli," kata Agus. Agus memastikan ada banyak opsi yang dapat dibahas dan dipilih bersama DPR.
Ditanya mengenai opsi membeli tank T-90 dari Rusia, Panglima TNI menjawab "Ya, itu salah satu. Tapi kan ada banyak sekali opsi,". Dia menilai tank medium yang dikembangkan PT Pindad pun menjadi opsi menarik untuk dilirik. "Bagus sekali kalau bisa dibuat didalam negeri," katanya.
Meski begitu, Agus menjelaskan bahwa ada aturan untuk pembelian alutsista produksi dalam negeri dan luar negeri. "Kalau bisa di produksi didalam negeri, ya harus dalam negeri. Kalau tidak bisa dalam negeri, harus joint production. Kalau joint production tidak bisa, baru beli dari luar negeri. Itu ada pedomannya. Kami ikuti itu saja. Kita lihat nanti seperti apa perkembangannya," kata Agus.
Sebelumnya, rencana pembelian tank tempur utama Leopard sempat jadi polemik karena DPR menolak rencana TNI AD itu. DPR beralasan, tank Leopard tidak sesuai untuk kondisi medan di Indonesia.
Sumber : VIVANEWS.COM
Berita terkait lainnya : INILAH.COM
Thursday, January 26, 2012
Pembelian MBT Mengikuti Prosedur Yang Ada
Jika alokasi dana yang diajukan TNI mendapat persetujuan pemerintah dan DPR, pengguna (TNI AD) harus menentukan spesifikasi teknis alutsista yang dibutuhkan. Selanjutnya dilakukan tender bebas ke pihak-pihak yang dapat menyediakan kebutuhan alutsista tersebut, baru kemudian dipilih yang sesuai dengan standar yang ditentukan,” papar Panglima.
Proses pengadaan MBT Leopard, jelasnya, baru sampai pada tahap penjajakan atas tawaran yang diterima TNI AD dari Belanda. TNI AD saat ini baru memiliki tank kelas ringan (light) dan sedang (medium). “Hingga kini belum ada kesepakatan, baru pilihan dan opsi-opsi, Leopard hanya salah satu alternatif pememenuhan kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Menurut Agus, modernisasi alutsista TNI dilakukan dengan tiga cara. Untuk alutsista yang sudah tua, akan dihapus dan dinonaktifkan. Sedangkan yang masih bisa ditingkatkan kemampuannya, akan kita tingkatkan. Pilihan terakhir adalah dengan melakukan pembelian. “Pengadaan MBT ini masuk dalam pengadaan baru,” imbuhnya. Modernisasi alutsista ini harus dilakukan, selain karena tank yang kita miliki sudah berusia tua, teknologinya pun sudah tertinggal jauh oleh yang dimiliki negara tetangga.
Jerman Tawarkan MBT Leopard Refurbishment
Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan tidak khawatir dengan penolakan parlemen Belanda atas penjualan tank Leopard ke Indonesia. Menurutnya, jika memang Belanda tidak mau menjual, sudah ada negara lain yang juga menawarkan pada Indonesia. “Jerman sebagai negara produsen juga menawarkan pada Indonesia,” ungkap Sjafrie di Bontang.
Tank Leopard 2A5 KWS II: merupakan hasil peningkatan dari type 2A5 dengan pembaharuan pada penggantian turret dan composite armor generasi ke-3. (Foto: Krauss-Maffei Wegmann GmbH & Co. KG.)
Dikatakan Sjafrie, tawaran Belanda adalah tank bekas yang jika jadi kita beli akan diupgrade kemampuannya. Sedangkan Leopard yang ditawarkan Jerman adalah refurbishment (perbaharuan), “Jadi bukan bekas, karena sudah ditingkatkan lebih dulu kemampuannya,” jelasnya.
Namun begitu, Sjafrie menegaskan Indonesia akan lebih diuntungkan dengan membeli pada Belanda. Dengan dana US$280 juta, Indonesia akan mendapat 100 unit tank Leopard. “Kalau di tempat lain tidak bisa. Dana itu kami alokasikan untuk 44 tank, tapi bisa mendapat 100 unit,” imbuhnya.
Sumber : JURNAS.COM
Tuesday, January 24, 2012
HIMARS, The Next MLRS for TNI AD
JAKARTA - Rencana TNI AD memodernisasi arsenal artileri medan (Armed) patut diapresiasi, salah satunya rencana matra darat ini mengakuisisi peluncur roket multilaras atau High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) dari Lockheed Martin, Amerika. Bukan tanpa alasan, peluncur roket yang diusung truck berpenggerak roda 6x6 ini pada penggelaran operasinya mampu diintegrasikan bersamaan dengan platform tempur lain, seperti : tank, pesawat mata-mata, helikopter dan ranpur lainnya.Singapore adalah salah satu negara tetangga Indonesia yang sudah menggunakan ranpur peluncur roket ini. Batalyon HIMARS AD Singapore (SAF) ditempatkan di Camp Khatib di Batalyon 23SA. HIMARS Selain mampu meluncurkan 6 roket 227mm secara salvo, arsenal ini juga kapabel meluncurkan rudal ATACMS yang bisa membawa bom tandan berdaya jangkau 128 Km.
SAF mendapatkan HIMARS sejak tahun 2007, dan secara resmi mengoperasikan pada September 2011. Sebelum dibawa ke Singapura, HIMARS SAF ini pernah diuji tembak di Fort Sill-Oklahoma, Amerika pada November 2010. Berikut video pengoperasian HIMARS oleh SAF yang diambil dari CYBERPIONEER. (ALUTSISTA)
MBT Leopard Bukan Pilihan Mutlak
Dari kiri Menhan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, KASAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, dan KASAL Laksamana TNI Soeparno menyimak pertanyaan anggota Komisi I DPR saat rapat kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (24/1). (Foto: ANTARA/Andika Wahyu)
JAKARTA - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menyatakan pembelian Main Battle Tank (MBT) Leopard 2A6 milik militer Belanda bukan pilihan mutlak dalam rencana pembelian tank.
“Pengadaannya sedang dibahas, dan Leopard hanya satu opsi untuk pengadaan MBT-nya. Keputusannya belum final dan kami masih mengkaji mana yang lebih tepat,” kata Agus, di sela-sela Raker dengan Komisi I di Gedung DPR, Selasa (24/1).
Pengadaan MBT ini merupakan salah satu program dalam memodernisasi alutsista demi mencapai Minimum Essential Forces (MEF). Panglima juga meminta persoalan ini tidak dijadikan isu yang mencolok sehingga seolah-olah terdapat masalah antara pemerintah dengan DPR. Menurutnya, selain MBT Leopard ada juga tawaran MBT dari negara lain.
DPR Setuju MBT & Menolak Leopard Belanda
"Untuk pengadaan MBT-nya kami setuju. Tapi untuk detailnya perlu pembahasan. Kami senang ada dialog, karena mereka sebelumnya tidak terbuka dan kesannya sudah pasti akan membeli Leopard,” kata wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin usai raker.
Dalam raker tersebut terungkap kebutuhan TNI adalah pada MBT, bukan semata pada Leopard-nya. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyebutkan, MBT yang dibeli tidak harus Leopard asal memenuhi spesifikasi kebutuhan TNI sebagai pengguna.
Jerman Tawarkan Leopard-nya Ke Indonesia
Tahu Indonesia sedang mencari MBT, Jerman menawarkan langsung tank Leopard buatannya ke Indonesia. Perwakilan negara dan produsen Krauss-Maffei Wegmann (KMW) direncanakan akan datang ke Indonesia untuk melakukan pembicaraan terkait rencana jual-beli ini.
“Kamis, 26 Januari nanti tim dari Jerman akan datang ke Indonesia. Jadi kami bisa membandingkan apakah lebih baik membeli dari Jerman atau Belanda,” kata KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo.

Tank Leopard 2A7, salah satu produk MBT Terbaru yang akan ditawarkan KMW Jerman kepada Indonesia. (Foto: armyrecognition.com)
Menurut KSAD, persoalan ketidaksetujuan parlemen Belanda terhadap penjualan Leopard pada Indonesia sudah disampaikan pada pemerintah Belanda. Dalam pertemuan dengan Belanda, 21 Desember 2011 lalu, KSAD telah mempertanyakan keseriusan Belanda dalam menjual Leopard-nya.
“Mereka tanya, kami jadi mau beli atau tidak. Sebelum saya jawab saya tanya, Belanda jadi jual atau tidak,” katanya.
Pengadaan MBT ini, kata Pramono, untuk menyamakan teknologi alutsista dengan negara-negara lain. Di wilayah Asia Tenggara, mayoritas negara telah memilikinya, bahkan di seluruh dunia. Selain Indonesia, negara tetangga yang belum memiliki MBT adalah Timor Leste dan Papua Nugini.
Saat ini ada beberapa varian tank Leopard. Varian yang diklaim terbaik adalah Leopard 2A6. Varian bermesin diesel ini pengembangan dari Lopard 2A5.
Sumber : JURNAS.COM
TNI AD Tertarik Membeli Peluncur Roket Multilaras HIMARS
HIMARS milik AD Singapore (Foto: mindef.gov.sg)
JAKARTA - Selain pengadaan Main Battle Tank, TNI AD juga melirik peluncur roket multi laras (Multiple Launch Rocket System/MLRS) guna memperkuat arsenal artileri medan (Armed) dan pertahanan udara (Hanud).
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhi Wibowo dalam paparannya saat raker antara Komisi I dan Kementerian Pertahanan mengungkapkan, Selasa (24/1) kemarin mengungkapkan rencana pengadaan MLRS ini sudah dimasukkan dalam shopping list alutsista yang akan dibeli TNI AD.
Salah satu incaran TNI AD adalah truck berpeluncur roket HIMARS (High Mobility Artilery Rocket System) buatan buatan Lockheed Martin, Amerika. “Selain digunakan untuk Armed juga untuk Hanud karena saat ini yang kami punya produk kelahiran tahun 1960-an. Nantinya setelah kami dapatkan harga pastinya akan disampaikan ke Parlemen,”kata KSAD di gedung DPR RI.
Dengan persenjataan ini, KSAD yakin, Indonesia akan memiliki efek gentar terhadap negara-negara lain sehingga tidak akan mengganggu kedaulatan negara. Senjata ini tidak kalah tangguh dengan tank Leopard, hanya beda fungsi dan penggunaannya. HIMARS memiliki jarak tembak 70 km dengan akurasi 10 meter. “Bahkan jarak tembaknya bisa ditingkatkan menjadi 300 km.
Peluncur roket HIMARS dikembangkan Lockheed Martin pada 1996, truck yang mengangkut peluncur roket ini mampu menembakkan enam roket sekaligus dalam waktu 45 detik. Selain Amerika Serikat, HIMARS juga dipakai oleh tetangga kita Singapura. HIMARS ini sendiri baru diproduksi massal pada Desember 2005.
Sumber : JURNAS.COM
KSAD : Kami Tidak Mengemis Kepada Belanda!
"Kami sedang nego harga. Jadi, kata putus dan harga pasti belum ada keputusan," katanya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (24/1).
Menurut Pramono, saat ini pemerintah dalam kondisi terjepit untuk membeli Tank Leopard tersebut. Karena mendapat tekanan dari parlemen Indonesia dan parlemen Belanda. "Parlemen Belanda menolak. Parlemen Indonesia menanyakan. Sebetulnya kami ini posisinya sulit," ujarnya.
Meski demikian, Pramono menegaskan tidak akan mengemis kepada pemerintah Belanda jika pembelian tank itu ditolak. "Andai Belanda tidak menjual maka kami tidak akan mengemis," ujarnya.
Ditolak Parlemen
Diberitakan sebelumnya, Parlemen Belanda (Tweede Kamer) menolak permintaan Kementerian Pertahanan Belanda untuk menjual tank Leopard ke Indonesia. Dalam mosi penolakan parlemen, mereka mengatakan tidak ingin terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang kerap terjadi di Indonesia.

Tank Leopard 2A6 AD Belanda. (Foto: FLICKR.COM)
Seperti diberitakan Radio Nederland Siaran Indonesia, pertengahan Desember lalu, mosi penolakan awalnya diajukan oleh Partai Kiri Hijau (Groenlinks). Dari seluruh anggota parlemen, hanya dua partai yang mendukung, yaitu partai CDA (Kristen Demokrat) dan VVD (Liberal Konservatif).
Pramono kembali menegaskan pentingnya Indonesia membeli Tank Leopard 2 ini. Menurutnya, Leopard 2 memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan tank yang dimiliki negara tetangga. "Kami pada dasarnya ingin membangun kekuatan. Malaysia sudah punya lama, tapi kita masih baru mau beli. Yang tidak punya Timor Leste, Papua Nugini," ujarnya.
Sumber : VIVANEWS.COM
Monday, January 23, 2012
Anggaran TNI Tahun 2012 Capai US$8 Milyar
JAKARTA - Pada tahun 2011, Tentara Nasional Indonesia sudah masuk jajaran 10 lembaga dengan anggaran terbesar. Tahun 2012 ini, dengan kenaikan anggaran yang mencapai 27 persen, predikat ini dipastikan bertahan.Ketua Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat Mahfudz Siddiq menyatakan, anggaran TNI untuk 2012 mencapai Rp72,5 triliun atau sekitar US$8 milyar. Di samping itu, masih ada anggaran untuk penambahan alutsista sebesar US$6,6 miliar.
"TNI AD mendapat sekitar US$1,4 miliar, TNI AL mendapat US$2,1 miliar, TNI AU mendapat US$2,6 miliar dan Mabes TNI sekitar US$328 juta," ungkap politikus asal Partai Keadilan Sejahtera itu dalam rapat kerja dengan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Selasa (24/1).
Namun Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menyampaikan, anggaran TNI untuk 2012 hanya mencapai Rp53,53 triliun. Agus tak memasukkan anggaran remunerasi Rp8 triliun dan anggaran untuk Kementerian Pertahanan.
Menurut Agus anggaran tersebut dibagi untukm markas Besar TNI Rp6,27 triliun, TNI AD Rp30,297 triliun, TNI AL Rp9,204 triliun dan TNI AU Rp8,010 triliun.
Anggaran itu terdiri atas belanja pegawai, belanja barang dan belanja modal. "Anggaran untuk Mabes TNI akan digunakan dalam operasi militer dan yustisi, pemeliharaan alutsista dan non-alutsista," kata Agus.
Sumber : VIVANEWS.COM
Wednesday, January 18, 2012
Daftar Belanja Alutsista TNI Periode 2010-2014
Menhan, Purnomo Yusgiantoro (depan), menyalami Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono (kiri ke kanan), KSAD, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, KSAL, Laksamana TNI Soeparno dan KSAU, Marsekal TNI, Imam Sufaat, saat Rapat Pimpinan TNI di Cilangkap, Jakarta, Rabu(18/1). Foto : ANTARA/ Ujang Zaelani
JAKARTA - Mabes TNI mendapat kucuran dana Rp 156 triliun untuk belanja alutsista dalam periode 2010-2014. Lantas belanja alutsista apa saja dari anggaran tersebut?
"Dalam hal pembelanjaan kita sudah punya shopping list 2010-2014, dengan anggaran Rp 156 triliun masing-masing angkatan sudah memiliki kebutuhannya," kata Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono, dalam jumpa pers di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/01).
Dijelaskan Agus, dari dana itu ada yang digunakan untuk pengadaan alutsista baru sebagai pengganti alutsista lama. Dan ada pula pembelian alutsista bekas pakai. Selain untuk meningkatkan kemampuan, persenjataan bekas yang dibeli akan dilakukan modernisasi.
"Itu bagian upaya kita memenuhi bagian pertahanan," lanjut Agus.
Pada kesempatan tersebut, para kepala staf angkatan membeberkan rencana belanja dari masing-masing angkatannya.
Satu Batalyon Tank
"Shoping list dari Rp 14 triliun yang dialokasikan untuk Angkatan Darat (TNI AD) yang mengemuka adalah tentang pengadaan tank Leopard. Sebenarnya kita ingin membeli 1 batalion tank berat, namun dana yang kita miliki terbatas," kata Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Purnomo Edhie Wibowo.Selain itu, AD juga berencana membeli 1 batalion Multiple Launcher Rocket System (MLRS) berjarak tembak 7 km, heli serang, howitzer 155mm berjarak tembak 40 km, serta memodernisasi rudal dan artileri anti pesawat.
"Alat kita sudah 20 tahun tidak dimodernisasi," tutur Pramono.
Tiga Komando Wilayah Laut
Sementara itu, Angkatan Laut (AL) alokasi dananya digunakan untuk pengadaan kapal selam, kapal cepat rudal, kapal PKR, serta kapal cepat. Untuk pesawat, TNI AL dipastikan bakal membeli pesawat patroli maritim, heli anti kapal selam, pesawat angkut dan pesawat anti kapal permukaan.Dalam hal pemekaran organisasi, TNI AL akan menambah komando wilayah laut RI dari 2 (Armabar dan Armatim) menjadi 3 armada, juga mengadakan beberapa pos angkatan laut (Posal). Sedangkan untuk marinir akan ada penambahan 1 divisi marinir, penambahan tank Amphibi BMP-3F, amunisi roket, dan meriam.
"Tidak ada pilih kasih semuanya kita tingkatkan secara pararel," kata Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Soeparno.
Pesawat Baru dan Hibah
Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Imam Supaat, juga menuturkan pengadaan dari angkatannya. Menurutnya, ada 4 hal pokok dalam pengadaan di Angkatan Udara (AU).
Pertama adalah air priority dengan mengadakan tambahan jet tempur Sukhoi, menerima hibah jet tempur F-16 sebanyak 30 dengan 24-nya di-upgrade dan 6 sebagai cadangan. Untuk Air Strike AU akan mendapatkan KAI T-50 (jet latih multifunsi) dari Korea sebanyak 16 unit.
Kemudian pesawat serang darat OV-10F bakal digantikan Supertocano dari brazi, yang dijadwalkan tiba tahun ini. Untuk air mobility AU akan menambah 9 pesawat angkut Hercules, di mana 4 di antaranya merupakan hibah dan 5 dibeli dari negara lain. Semuanya dari tipe H.
"Kemudian dari dalam negeri AU akan mendapatkan 9 pesawat C-295 hasil kolaborasi PTDI dengan Airbus Military," kata Imam.
Selanjutnya, untuk Air-SAR atau Recognition, AU akan meng-upgrade pesawat Boeing 737-400 yang saat ini ada 3 unit, kemudian AU juga akan mendapatkan CN-235 untuk patroli maritim dan helicopter EC 275 "Cougar".
Untuk pesawat latih, AU akan membeli pesawat LOB dari Jerman sebanyak 24 buah. Lalu menambah KT-1 Wongbee yang sekarang kini dipakai aerobatic menjadi 24 unit.
Terakhir, untuk pertahanan udara (hanud), AU akan membeli sistem rudal hanud Oerlikon dan rudal udara ke udara.
"Itu yang akan kita rencanakan di samping menghidupkan kekuatan yang sekarang ini ada," tutur Imam.
Sumber : DETIK.COM
Monday, January 16, 2012
150 Trilyun Untuk Peremajaan Alutsista
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kiri) bersama Wamen Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kanan) saat mengikuti rapat pimpinan kementerian pertahanan di Jakarta, Senin (16/1). Foto: ANTARA/Dhoni Setiawan
JAKARTA - Kementerian Pertahanan (Kemhan) memiliki dana senilai Rp150 triliun untuk belanja dalam lima tahun mendatang yang akan dialokasi untuk tiga pos penting, terutama terkait dengan peremajaan alutsista.
"Yang harus dipahami, anggaran dalam pembelian alutsista itu multi years melalui proses yang panjang dan bertahap," ujar Menteri Pertahanan (Menhan), Purnomo Yusgiantoro, di Jakarta, Senin (16/1).
Menhan mengatakan, anggaran tersebut digunakan untuk tiga hal, antara lain Rp50 triliun dana on top untuk percepatan minimum essential force (MEF), Rp55 triliun untuk alutsista, dan Rp45 triliun untuk pemeliharaan dan perawatan.
"Sebagian dana itu akan digunakan berbelanja pada tahun 2012 ini," kata Purnomo.
Pengadaan alutsista pada 2012, antara lain untuk TNI AD yang akan membeli Main Battle Tank (MBT), Mltiple Launcher Rocket System, dan Meriam Artileri Medan kaliber 155 mm.
TNI AD juga berencana membeli senjata artileri pertahanan udara yang difokuskan pada peluru kendali (rudal) dan helikopter yang difokuskan pada helikopter serang serta panser yang akan dibuat oleh PT Pindad.
Adapun TNI AU akan membeli senjata anti-pesawat udara, pesawat tempur F-16, helikopter Cougar 735 sejenis SuperPuma dan Hercules sebanyak empat unit dari Australia.
Sementara itu, TNI AL difokuskan pada kebutuhan kapal cepat Sea Rider, kapal patroli cepat, kapal perusak, hidro oceanic serta kapal latih untuk pengganti KRI Dewaruci. Selain itu, ada juga kapal-kapal administrasi, seperti kapal angkutan tank dan minyak, serta kapal selam.
Pengadaan MBT Leopard Sudah dikaji Matang
Menhan Purnomo Yusgiantoro kembali menegaskan bahwa pengadaan MBT Leopard dari Belanda sudah melalui penelitian dan pengkajian yang matang. "Prosesnya tidak ujug-ujug (tiba-tiba), dan kita tahu persis kegunaannya untuk apa," ujarnya tegas.
Purnomo menilai penolakan rencana pembelian tank Leopard dari Belanda oleh beberapa anggota DPR, bukan merupakan sikap resmi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Menurutnya, pernyataan sikap resmi DPR akan disampaikan dalam rapat kerja antara eksekutif dan legislatif, dan itu belum dilakukan sampai saat ini.
"Penolakan itu belum sikap resmi dari Senayan (DPR) karena kami belum bertemu dengan mereka," katanya.
Seorang tentara AD Belanda tengah memasang kamuflase pada Tank Leopard 2A6 Dutch Army (Foto: Flickr)
Purnomo menambahkan," Komentar boleh dilakukan oleh siapa saja, tapi ada satu proses yang sifatnya `official` yang biasanya dilakukan dalam rapat kerja. Belum ada kesimpulan secara resmi tentang penolakan dan sebagainya. Kalau orang per orang silahkan saja." ujarnya.
Sementara itu, Wamenhan Syafrie Syamsuddin mengatakan pembelian tank Leopard telah melalui pengkajian teknis dan taktis di tingkat Markas Besar Angkatan di Kementerian Pertahanan.
Kementerian Pertahanan memandang secara strategi perlu modernisasi peralatan militer dalam rangka dua hal yakni memenuhi strategi pertahanan. Kedua, untuk memenuhi varian teknologi sebagai tuntutan dari revolusi militer negara ASEAN.
"Saat ini Komisi 1 sedang melakukan pengkajian, kita menunggu hasil pengkajian mereka secara institusi, bukan secara individu dari masing-masing anggota parlemen," kata Sjafrie.
Seperti diketahui baru-baru ini beberapa anggota Komisi I DPR tegas-tegas menolak rencana pembelian MBT oleh TNI AD. DPR menilai spesifikasi tank Leopard tak cocok dengan kondisi medan Indonesia.
Sumber : ANTARA
Mabes TNI Persilahkan KPK Awasi Pembelian Alutsista
"Selama ini kan kita diaudit oleh BPK. Kalau nanti aturannya oleh KPK, ya silakan saja jika ada kejanggalan. Tapi selama ini kan tidak ada," ujar Kepala Pusat Penerangan TNI, Laksamana Muda Iskandar Sitompul, di Jakarta, Senin (16/1).
Mekanisme pembelian Leopard itu menganut sistem antar pemerintah dan tim perunding yang dipimpin pejabat tinggi di lingkungan TNI-AD telah memfinalisasi pembelian itu ke negara produsernya beberapa bulan lalu.
Sitompul menuturkan, pengadaan tank Leopard tersebut sesuai kebutuhan TNI-AD dan kondisi geografis di Indonesia. Walau begitu, ada juga anggapan bahwa keperluan Leopard itu tidak sesuai dengan kondisi geografis dan topografis Indonesia.
Ia menambahkan pengadaan 100 unit tank tersebut memperkuat pertahanan di perbatasan, jadi bukan hanya di Jawa saja.
"Nanti yang mengatur penempatan itu KSAD," kata Iskandar. Menurut pengamat, kesiapan infrastruktur mutlak dikedepankan jika satu wilayah ditetapkan menjadi pangkalan Leopard; di antaranya kekuatan struktur jembatan, jalan, depo bahan bakar, depo amunisi, dan sebagainya.
TNI-AD akan melengkapi sistem pertahanan dengan memborong arsenal dari lima pabrik di Eropa dan Amerika. Peralatan yang akan dibeli dengan dana APBN 2011 sebesar Rp 14 triliun itu dipastikan semua produk baru.
Alutsista yang akan dibeli tersebut, antara lain : Leopard 2A6, sistem peluncur roket multi laras, meriam 155 dari Perancis dan helikopter serang AH-64 Apache dari Amerika Serikat.
Sumber : ANTARA
Friday, January 13, 2012
KASAD Ungkapkan Alasan Pembelian Tank Leopard
"Hasil kajian itu yang terpilih salah satunya Tank Leopard," ujar Pramono usai menghadiri acara HUT ke 61 Dinas Penerangan (Dispen) AD di Jalan Abdul Rachman Saleh, Jumat (13/1).
Menurutnya selain pembelian tank tersebut, TNI AD juga akan membeli helikopter serang, artileri medan dan artileri pertahanan anti udara. "Rata-rata semua persenjataan jenis itu yang kita miliki sudah tua," paparnya.
Dia menjelaskan, alasan pembelian tank tersebut karena selama ini Alutsista TNI AD rata-rata berumur 20 tahun. "Oleh karena itu kita memerlukan modernisasi, dengan alokasi dana yang tersedia sebesar Rp14 Triliun," jelasnya.
Lebih jauh, ipar Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono ini mengatakan pengadaan alusista direncanakan sampai tahun 2014. "Kenapa sampai 2014, ya karena memang alokasi dananya sampai di situ, kita berharap selesai sebelumnya," tambahnya.
Sebelumnya, kementerian Pertahanan dikabarkan akan membeli 100 unit Tank Leopard dari Belanda. Namun, Komisi Pertahanan DPR menilai tank buatan Jerman tersebut tidak cocok untuk dipakai di Indonesia.
Alasan penolakan pembelian tank tersebut, menurut Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR Tubagus Hasanuddin karena Indonesia memiliki konsep pertahanan defensif. "Kita ini sifatnya bertahan, karenanya kita melakukan pertahanan di pulau-pulau. Sementara Tank Leopard dibuat untuk fungsi melakukan penyerangan," pungkasnya.
Sumber : OKEZONE.COM
Subscribe to:
Posts (Atom)